Minggu, 02 Januari 2011

tukar pacar

Kejadian ini kira-kira sudah 2 tahun yang lalu.
 akhir Desember 98. Waktu itu kita, 
2 pasang kekasih pergi berlibur ke Puncak.
Yah......... ketika itu sekolah sedang libur.
 Aku mengajak pacarku Olga sedang temanku
 Sandy mengajak pacarnya Lisa. 
Kalau dibandingkan antara Olga dan Lisa
 keduanya sama-sama menggairahkan.
Olga orangnya tomboy sedang Lisa sangat manis.........
kalau payudaranya lebih besar punya Olga.
Kita berempat masing-masing sudah bertunangan 
dan rencananya akan menikah
 bersamaan.
Karena kita sudah sangat akrab satu dengan lainnya.

Singkat cerita kami berangkat dengan mobil Vitaraku sesampainya di 
Puncak kami menginap di Villaku.
Kami beristirahat sebentar lalu malamnya kami
 berputar-putar mencari angin.
Di dalam mobil Sandy berpelukan dengan Lisa di belakang.
"San kamu kok sudah nggak sabar sih kan malam masih panjang" kataku.
"Habis dingin banget nih" jawabnya.
Dengan kaca spionku aku dapat melihat 
dengan jelas mereka berciuman
 dan tangan Sandy bergerilya di sekitar dada Lisa,
wah tegang aku jadinya melihat mereka dan 
Lisa tampak sangat cantik malam ini.
"San kalau kamu gitu aku jadi nggak tahan lho.
." kata Olga.
"Kamu duduk belakang sekalian aja", jawab Lisa.
"Edan keenakan Sandy dong", jawabku.
"Nggak apa-apa to Ric kan sama temen 
kok dianggap sama orang lain", jawab Sandy.
"Boleh khan yang", tanya Olga.
"Terserah kamu aja jika pingin nyoba sana pindah" jawabku,
 lalu Olga langsung pindah ke belakang. 
Sandy jadi duduk di tengah,
 dia mencium Olga dan Lisa bergantian.
"Nanti sesampai di Villa ganti aku nyoba Lisa ya..", tanyaku.
"Boleh", sahut mereka serempak.

Karena sudah tidak tahan aku putar mobilku 
dan langsung kembali ke villa
. Aku langsung rangkul Lisa dan aku ciumi,
 aku lakukan itu di ruang tengah,
 sedang Olga dan Sandy nonton TV.
"Ric yuk kita main berempat di kamar aja" ajak Sandy.
"OK, aku dan Lisa sih pasti mau-mau aja 
cuman Olga apa mau jika kamu ikut?
 sebab kamu kan jelek, gantengan aku?".
"Ngejek ya aku sih malah takut jika Olga nanti ketagihan sama pelerku".
Lalu kami berempat mulai masuk ke kamar utama. 
Kami berempat lalu telanjang bulat.

Pertama-tama kami ciuman aku dengan Lisa sedang Olga dengan Sandy.
 Kita sih sudah sering melakukan hubungan seks tapi kalau berganti
 pasangan dan main secara bersama sih baru kali ini. 
Aku lirik si Olga dia sudah mulai mengisap penis Sandy
 sedang Sandy merem-melek keenakan. Aku sedang mainin clitoris Lisa
 dengan lidahku dia sangat terangsang kelihatannya.
Lalu aku ganti diisep oleh Lisa.
 Kalau isapannya sih enakan isapan Olga,
 si Lisa kurang pengalaman kali.
"Mari kita main bareng", ajakku.

Lalu kita berempat tiduran di karpet si 
Lisa mengisap penisku dan aku mainin 
vagina Olga dengan mulutku, 
sedang Sandy diisap Olga dan Sandy mainin vagina Lisa.
 Kami main posisi begitu dengan berganti-ganti pasangan.

Setelah puas aku main dengan lisa, vaginanya aku masukin penisku,
 penisku lebih besar dari punya sandy cuman kalah panjang. 
Vaginanya sih lebih nikmat punya
 Lisa sebab lebih kecil ukurannya dan 
tidak terlalu becek jadi lebih nikmat rasanya.

Kami main berganti posisi dan juga berganti pasangan.
 Setelah puas aku dan Sandy keluarin di mulut pacar masing-masing. 
Dan Ml....DCH.........

Senin, 19 Juli 2010

Cerita sex Kenikmatan Gadis Muda Belia

Kenikmatan Gadis Muda Belia, Pada tahun 1994 saya tercatat sebagai siswa baru pada SMUN 2 pada waktu itu sebagai siswa baru, yah.. acara sekolahan biasa saja masuk pagi pulang sekitar jam 14:00 sampai pada akhirnya saya dikenalkan oleh teman seorang gadis yang ternyata gadis itu sekolah juga di dekat sekolah saya yaitu di SMPN 3.
Ketika kami saling menjabat tangan, gadis itu masih agak malu-malu, saya lihat juga gadis itu tingginya hanya sekitar 158 cm dan mempunyai dada yang memang kelihatan lebih besar dari anak seumurnya sekitar 34B (kalau tidak salah umurnya 14 tahun), mempunyai wajah yang manis banget dan kulit walaupun tidak terlalu putih tapi sangat mulus, (sekedar info tinggi saya 165 cm dan umur waktu itu 16 tahun), saya berkata siapa namamu?, dia jawab L—- (edited), setelah berkenalan akhirnya kami saling memberikan nomor telepon masing-masing, besoknya setelah saling telepon dan berkenalan akhirnya kami berdua janjian keluar besok harinya jalan pertama sekaligus cinta pertama saya membuat saya deg-degan tetapi namanya lelaki yah…, jalan terus dong.......................
Akhirnya malam harinya sekitar jam 19.00 saya telah berdiri didepan rumahnya sambil mengetuk pagarnya tidak lama setelah itu L—-muncul dari balik pintu sambil tersenyum manis sekali dia mengenakan kaos ketat dan rok yang kira-kira panjangnya hampir mencapai lutut berwarna hitam.
Saya tanya, “Mana ortu kamu…”, dia bilang kalau di rumah itu dia cuma tinggal bersama papanya dan pembantu, sedangkan kalau kakaknya dan mamanya di kota lain.
“Oohh jawab saya,” saya tanya lagi “Terus Papa kamu mana?” dia jawab kalau Papa lagi keluar ada rapat lain di hotel (papanya seorang pejabat kira-kira setingkat dengan wagub) jadi saat itu juga kami langsung jalan naik motorku dan tanpa disuruhpun dia langsung memeluk dari belakang, penis saya selama jalan-jalan langsung tegang, habis dada dia begitu kenyal terasa di belakangku seakan -akan memijit-mijit belakangku (motor waktu itu sangat mendukung, yaitu RGR).
Setelah keliling kota dan singgah makan di tempat makan kami langsung pulang ke rumahnya setelah tiba saya lihat rumahnya masih sepi mobil papanya belum datang. Tiba-tiba dia bilang “Masuk yuk!., Papa saya kayaknya belum datang”. Akhirnya setelah menaruh motor saya langsung mengikutinya dari belakang saya langsung melihat pantatnya yang lenggaklenggok berjalan di depanku, saya lihat jam ternyata sudah pukul 21.30, setiba di dalam rumahnya saya lihat tidak ada orang saya bilang “Pembantu kamu mana?”, dia bilang kalau kamar pembantu itu terpisah dari bangunan utama rumah ini agak jauh ke belakang.
“oohh…”, jawab saya.
Saya tanya lagi, “jadi kalau sudah bukakan kamu pintu pembantu kamu langsung pergi ke belakang?”, dia jawab iya.
“Terus Papa kamu yang bukain siapa…”
“saya…” jawabnya.
“Kira-kira Papa kamu pulang jam berapa sih…”, tanya saya. Dia bilang paling cepat juga jam
24.00. (Langsung saja pikiranku ngeres banget)
Saya tanya lagi “Kamu memang mau jadi pacar saya…”.
Dia bilang “Iya…”.
Lalu saya bilang, “kalau gitu sini dong dekat-dekat saya…”, belum sampai pantatnya duduk di kursi sebelahku, langsung saya tarik ke dalam pelukanku dan mengulum bibirnya, dia kaget sekali tapi belum sampai ngomong apa-apa tanganku langsung memegang payudaranya yang benar-benar besar itu sambil saya remas-remas dengan kuat sekali (habis sudah kebelet) diapun mengeluh “Ohh.., oohh sakit”. katanya.
Saya langsung mengulum telinganya sambil berbisik, “Tahan sedikit yah…”, dia cuma mengangguk. Payudaranya saya remas dengan kedua tanganku sambil bibir saya jilati lehernya, kemudian pindah ke bibirnya langsung saya lumat-lumat bibirnya yang agak seksi itu, kamipun berpagutan saling membenamkan lidah kami masing-masing. Penis saya langsung saya rasakan menegang dengan kerasnya. Saya mengambil tangan kirinya dan menuntun memegang penisku dibalik celana saya, dia cuma menurut saja, lalu saya suruh untuk meremasnya. Begitu dia remas, saya langsung mengeluh panjang, “Uuhh…, nikmat sayang”, kata saya. “Teruss…”, dengan agak keras kedua tanganku langsung mengangkat kaos yang dia kenakan dan membenamkan muka saya di antara payudaranya, tapi masih terhalang BH-nya saya jilati payudaranya sambil saya gigit-gigit kecil di sekitar payudaranya, “aahh…, aahh”. Diapun mendesis panjang tanpa melepas BH-nya saya langsung mengangkat BH-nya sehingga BH-nya berada di atas payudaranya, sungguh pemandangan yang amat menakjubkan, dia mempunyai payudara yang besar dan puting yang berwarna kemerahan dan menjulang keluar kira-kira 1/2 cm dan keras, (selama saya main cewek baruku tahu sekarang bahwa tidak semua perempuan nanti menyusui baru keluar putingnya). Saya jilat kedua payudaranya sambil saya gigit dengan keras putingnya. Dia pun mengeluh sambil sedikit marah. “Aahh…, sakkiitt…”, tapi saya tidak ambil pusing tetap saya gigit dengan keras. Akhirnya diapun langsung berdiri sambil sedikit melotot kepadaku.


Sekarang payudara dia berada tepat di depan wajah saya. Sambil saya memandangi wajahnya yang sedikit marah, kedua tanganku langsung meremas kedua payudaranya dengan lembut. Diapun kembali mendesis, “Ahh…, aahh…”, kemudian saya tarik payudaranya dekat ke wajah saya sambil saya gigit pelan-pelan. Diapun memeluk kepala saya tapi tangannya saya tepiskan. Sekelebat mata saya menangkap bahwa pintu ruang tamunya belum tertutup saya pun menyuruh dia untuk penutup pintunya, dia pun mengangguk sambil berjalan kecil dia pergi menutup pintu dengan mengendap-endap karena bajunya tetap terangkat sambil memperlihatkan kedua bukit kembarnya yang bikin hati siapa saja akan lemas melihat payudara yang seperti itu.
Setelah mengunci pintu dia pun kembali berjalan menuju saya. Saya pun langsung menyambutnya dengan memegang kembali kedua payudaranya dengan kedua tangan saya tapi tetap dalam keadaan berdiri saya jilati kembali payudaranya. Setelah puas mulut saya pun turun ke perutnya dan tangan saya pelan-pelan saya turunkan menuju liang senggamanya sambil terus menjilati perutnya sesekali mengisap puting payudaranya. Tangan sayapun menggosok-gosok selangkangannya langsung saya angkat pelan-pelan rok yang dia kenakan terlihatlah pahanya yang mulus sekali dan CD-nya yang berwarna putih saya remas-remas liang kewanitaannya dengan terburu buru, dia pun makin keras mendesis, “aahh…, aakkhh… ohh…, nikmat sekali…”, dengan pelan-pelan saya turunkan cdnya sambil saya tunggu reaksinya tetapi ternyata dia cuma diam saja, (tiba-tiba di kepala muncul tanda setan). Terlihatnya liang kewanitaannya yang ditumbuhi bulu-bulu tapi sangat sedikit. Sayapun menjilatinya dengan penuh nafsu, diapun makin berteriak, “Aakkhh…, akkhh…, lagi…, lagii..”.
Setelah puas sayapun menyuruhnya duduk di lantai sambil saya membuka kancing celanaku dan saya turunkan sampai lutut terlihatlah CD-ku, saya tuntun tangannya untuk mengelus penis saya yang sudah sangat tegang sehingga sepertinya mau loncat dari CD-ku. Diapun mengelusnya terus mulai memegang penis saya. Saya turunkan CD-ku maka penis saya langsung berkelebat keluar hampir mengenai mukanya. Diapun kaget sambil melotot melihat penis saya yang mempunyai ukuran lumayan besar (diameter 3 cm dan panjang kira-kira 15 cm) saya menyuruhnya untuk melepas kaos yang dia kenakan dan roknya juga seperti dipangut dia menurut saja apa yang saya suruh lakukan. Dengan terburu-buru saya pun melepas semua baju saya dan celana saya kemudian karena dia duduk dilantai sedangkan saya dikursi, saya tuntun penis saya ke wajahnya dia pun cuma melihatnya saja. Saya suruh untuk membuka mulutnya tapi kayaknya dia ragu-ragu.
Setengah memaksa, saya tarik kepalanya akhirnya penisku masuk juga kedalam mulutnya dengan perlahan dia mulai menjilati penis saya, langsung saya teriak pelan, “Aakkhh…, aakkhh…”, sambil ikut membantu dia memaju-mundurkan penis saya di dalam mulutnya. “aakk…, akk…, nikmat sayyaangg…”. Setelah agak lama akhirnya saya suruh berdiri dan melepaskan CD-nya tapi muncul keraguan di wajahnya sedikit gombal akhirnya CD dan BH-nya dia lepaskan juga maka telanjang bulatlah dia depanku sambil berdiri. Sayapun tak mau ketinggalan saya langsung berdiri dan langsung melepas CD-ya. Saya langsung menubruknya sambil menjilati wajahnya dan tangan saya meremas -remas kedua payudaranya yang putingnya sudah semakin tegang, diapun mendesis, “Aahh…, aahh…, aahh…, aahh”, sewaktu tangan kananku saya turunkan ke liang kemaluannya dan memainkan jari-jariku di sana.
Setelah agak lama baru saya sadar bahwa jari saya telah basah. Saya pun menyuruhnya untuk membelakangiku dan saya siapkan penis saya. Saya genggam penis saya menuju liang senggamanya dari belakang. Saya sodok pelan -pelan tapi tidak maumasuk-masuk saya sodok lagi terus hingga dia pun terdorong ke tembok tangannyapun berpangku pada tembok sambil mendengar dia mendesis, “Aahh…, ssaayaa..,. ssaayaangg…, kaammuu…”, sayapun terus menyodok dari belakang. Mungkin karena kering penis saya nggak mau masuk-masuk juga saya angkat penis saya lalu saya ludahi tangan saya banyak-banyak dan saya oleskan pada kepala penis saya dan batangnya dia cuma memperhatikan dengan mata sayu setelah itu. Saya genggam penis saya menuju liang senggamanya kembali. Pelan -pelan saya cari dulu lubangnya begitu saya sentuh lubang kemaluannya dia pun langsung mendesis kembali, “Ahh…, aahh…”, saya tuntun penis saya menuju lubang senggamanya itu tapi saya rasakan baru masuk kepalanya saja diapun langsung menegang tapi saya sudah tidak peduli lagi. Dengan satu hentakan yang keras saya sodok kuat-kuat lalu saya rasa penis saya seperti menyobek sesuatu maka langsung saja dia berontak sambil berteriak setengah menangis, “Ssaakkiitt…”. Saya rasakan penis saya sepertinya dijepit oleh dia keras sekali hingga kejantanan saya terasa seperti lecet di dalam kewanitaannya. Saya lalu bertahan dalam posisi saya dan mulai kembali menyiuminya sambil berkata “Tahann.. sayang… cuman sebentar kok…”
Saya memegang kembali payudaranya dari belakang sambil saya remas-remas secara perlahan dan mulut saya menjilati belakangnya lalu lehernya telinganya dan semua yang bisa dijangkau oleh mulut saya agak lama. Kemudian dia mulai mendesis kembali menikmati ciuman saya dibadan dan remasan tangan saya di payudaranya, “Ahh…, aahh…, ahh…, kamu sayang sama lakukan?” dia berkata sambil melihat kepada saya dengan wajah yang penuh pengharapan. Saya cuma menganggukkan kepala padahal saya lagi sedang menikmati penis saya di dalam liang kewanitaannya yang sangat nikmat sekali seakan-akan saya lagi berada di suatu tempat yang dinamakan surga. “Enak sayang?”, kataku. Dia cuma mengangguk pelan sambil tetap mengeluarkan suara-suara kenikmatan, “Aahh…, aahh…” lalu saya mulai bekerja, saya tarik pelan-pelan penis saya lalu saya majukan lagi tarik lagi majukan lagi dia pun makin keras mendesis, “Aahh…, ahh…, ahhkkhh…” akhirnya ketika saya rasakan bahwa dia sudah tidak kesakitan lagi saya pun mengeluar-masukkan penis saya dengan cepat dia pun semakin melenguh menikmati semua yang saya perbuat pada dirinya sambil terus-meremas payudaranya yang besar itu. Dia teriak “Sayaa mauu keeluuarr…”. Sayapun berkata “aahhkkssaayyaanggkkuu…” , saya langsung saja sodok dengan lebih keras lagi sampai -sampai saya rasakan menyentuh dasar dari liang senggamanya tapi saya benar-benar kesetanan tidak peduli lagi dengan suara-suara, “Ahh…, aahh…, ahh…, akkhh…, akkhh…, truss” langsung dia bilang “Sayyaa kkeelluuaarr…, akkhh…, akhh…”, tiba-tiba dia mau jatuh tapi saya tahan dengan tangan saya. Saya pegangi pinggulnya dengan kedua tangan saya sambil saya kocok penis saya lebih cepat lagi, “Akkhh…, akkhh…, ssaayyaa mauu…, kkeelluuaarr…, akkhh…”, pegangan saya di pinggulnya saya lepaskan dan langsung saja dia terjatuh terkulai lemas.
Dari penis saya menyemprotlah air mani sebanyak-banyaknya, “Ccroott…, croott.., ccrroott…, akkhh…, akkhh…”, saya melihat air mani saya membasahi sebagian tubuhnya dan rambutnya, “Akhh…, thanks sayangkuu…”, sambil berjongkok saya cium pipinya sambil saya suruh jilat lagi penisku. Diapun menjilatinya sampai bersih. Setelah itu saya bilang pakai pakaian kamu dengan malas dia berdiri mengambil bajunya dan memakainya kembali.


Minggu, 18 Juli 2010

MARAH MEMBAWA NIMAT........

Pantaslah kalau Wulan marah, karena aku terlambat jemput dia di kantornya lebih dari sejam. Di sepanjang perjalalanan menuju rumah kontrakannyapun, wajahnya yang imut tapi sensual itu terus saja cemberut.

Barulah sesampainya di rumah kontrakannya, dia bicara. ?Ok aku mau maafin kamu, tapi kamu musti aku hukum dulu?, katanya dengan masih bernada kesal. ?Ya deh, suruh ngapain nih aku tuan putri??, tanyaku lagi sambil bercanda.?Buka semua pakaianmu sekarang juga!?, katanya lagi agak keras. Kaget juga aku mendengar perintahnya. Biasanya aku yang minta dia duluan buka, atau paling tidak bersama-sama. Walaupun begitu, aku turuti saja permintaannya biar dia nggak marah lagi. Akupun membuka seluruh pakaianku di ruang tamu itu juga hingga bugil total. Sementara Wulan cuma memperhatikan tanpa ekspresi sambil duduk di sofa masih dengan pakaian kerjanya.

? Sini kamu!, cepat berlutut di depanku!?, katanya lagi sambil menunjuk dengan jarinya dimana aku musti berlutut. Akupun berlutut pas di depan Wulan yang duduk seenaknya menopangkan kakinya agak tinggi sehingga rok mini merahnya tersingkap ke atas dan menampakkan kemulusan pahanya. Tiba-tiba dijulurkannya satu kakinya yang bersepatu hak tinggi itu ke depan mukaku. ?Buka sepatuku!?, perintahnya kepadaku. Akupun melepas perlahan sepatunya hingga kakinya yang putih bersih mulus dengan jari-jarinya yang mungil dan kontras dengan cutex merahnya, muncul tepat beberapa centi di depan wajahku.

?Aku mau kamu ciumi kakiku, cepet!?, kata Wulan langsung. Kaki kanannya kupegang lembut dan mulai kudaratkan bibirku di punggung kakinya. Kugeser pelan dari atas ke bawah sambil merasakan kehalusan kulitnya. Dari situ kugeser lagi bibirku ke samping kakinya hingga ke mata kaki Wulan yang membuatnya menggelinjang kegelian. Wulan mulai mendesah pelan dan nampak sangat menikmatinya. Dinaikkannya sedikit kakinya agar aku bisa menciumi dan menjilati telapak kakinya yang hangat dan berlekuk indah itu. ?Sshh..ahh..?, erangnya sambil menggelinjang yang membuat penisku berdenyut dan mengeras perlahan. Desahannya makin menjadi waktu mulai kuhisap jari-jemari kakinya yang mungil, dengan sesekali kumainkan lidahku.

Aku makin bisa menikmati permainan Wulan ini dan makin penasaran menunggu perintah-perintah selanjutnya. ?Terus naik ke atas..ssh,? katanya lagi dibarengi dengan desahan lembut. Segera kutelusuri batang kakinya yang jenjang itu dengan ciuman dan jilatan-jilatan menggoda. Kuangkat kakinya agar bisa bebas menelusuri betisnya yang indah, sementara posisi rok mininya makin tersingkap sehingga cdnyapun yang mulai basah nampak jelas menantang. Dari betis, kunaikkan lagi jilatan lidahku ke lututnya, kuputar-putar sebentar di situ dan terus lagi menelusuri kemulusan pahanya. Wulan makin menggelinjang, dan posisi duduknya makin melorot ke bawah dengan kedua pahanya yang terbuka lebar.

Jilatanku makin mengganas di kedua paha dalamnya. Namun tiba-tiba tangannya menghentikan kepalaku. ?Stop!, kamu berdiri dulu?, katanya tiba-tiba sambil merapikan duduknya. Memang serba tanggung, tapi aku turuti saja kemauannya. Wulan kemudian mengambil ikat pinggangku, menarik kedua tanganku ke belakang, dan mengikatkannya di kedua tanganku menjadi satu. ?Sekarang gantian kamu yang duduk di sofa!?, perintahnya lagi. Akupun duduk dengan tangan terikat ke belakang. Masih berdiri di atas carpet, Wulan yang masih mengenakan pakaian lengkap, menarik cdnya ke bawah. Aku berharap rok mini, blazer dan baju dalamnya dilepas juga. Ternyata dia langsung naik ke sofa dan berdiri di depanku dengan posisi kedua kakinya yang jenjang itu mengapit tubuhku yang sedang duduk, sehingga posisi wajahku persis di depan rok mininya.

Dengan perlahan, rok mininya diangkat ke atas dan mulai menampakkan kemaluannya yang berambut tipis itu sedikit demi sedikit. Gayanya ini membuatku makin horny dan batang kemaluankupun tegak kembali. Belum sempat aku terpana melihat keindahan vaginanya, tangan kanannya menjambak rambutku dan menarik wajahku ke selangkangannya. ?Lakukan apa saja sebisamu, cepat!?, perintahnya kemudian. Aku merasakan sensasi yang luar biasa dengan kedua tanganku terikat ke belakang, tapi wajahku terbenam di selangkangannya. Mulailah bibir dan lidahku menjalankan tugasnya dengan melumat vaginanya yang ternyata sudah basah sedari tadi. Aroma khasnya di situ makin membangkitkan nafsuku utk memainkan lidahku dengan liar. dan membuat liukan-liukan Wulan menjadi makin tak karuan menahan nikmat tiada tara. Kadang-kadang kakinya bergetar waktu bibirku menemukan clitnya dan mengemotnya lembut. ?Sshh...awh?, erang Wulan sambil tak henti menggelinjang. Merasa tak tahan lagi, Wulan malah menaikkan kaki kanannya ke samping wajahku dan ditaruhnya di atas sandaran sofa. Vaginanya makin terbuka lebar membuat lidahku makin leluasa menjilat dan mengemot segala sudutnya. Tangannya makin keras menjambak rambutku ikut mengatur gerakan-gerakan kepalaku di selangkangannya, sampai akhirnya dengan sekuat tenaga ditekannya dalam-dalam wajahku dibarengi dengan hentakan-hentakan pinggulnya yang hebat. ?Aghh?..agggghhh!!?, teriaknya lepas menandakan telah tercapainya puncak kenikmatan didirinya. Kedua pahanya menghimpit keras kepalaku beberapa saat lamanya. Sementara itu wajahkupun tak bisa banyak bergerak dan hanya bisa menikmati hangatnya cairan yang membanjir dari vaginanya.

Wulan kemudian masuk ke kamar dan keluar lagi dengan hanya mengenakan blazer merahnya. Kancingnya yang terbuka lepas menampakkan lembah diantara kedua belah dadanya menjadi indah dan kontras. Melihat aku menatap ke dadanya, membuatnya ingin menggodaku lagi. Wulan kemudian naik ke sofa dengan posisi menduduki pahaku. Dengan perlahan dibukanya blazernya dan dilemparkannya ke carpet. Kedua tangannya kemudian dia rentangkan kesamping agar aku bisa menatap bebas kedua bukit dadanya yang bulat padat dengan putingnya yang merah muda. Tiba-tiba, disodorkannya buah dadanya yang kanan ke depan wajaku. ?Tunggu apa lagi?, ayo isep putingku!?, perintahnya lagi sambil menarik wajahku ke gundukan dadanya. Dengan tanganku yang masih terikat ke belakang, kuturuti perintahnya, namun kumulai dengan menciumi sekitar bukitnya, lalu berlama-lama dengan jilatan di sekitar putingnya. Wulan tak protes, bahkan tangannya dikebelakangkan agar kedua bukitnya makin menonjol dan menantang untuk diservice. Benar saja, Wulan meliuk hebat waktu mulutku menjilati putingnya berulang-ulang dan bergantian. Ketika mulai mencuat dan mengeras, kulanjutkan dengan hisapan-hisapan dari yang lembut hingga kemotan-kemotan panjang disertai dengan jilatan nakal. ?Awwh..ssh?, rintihnya sambil menggelinjang hebat. Saking nikmatnya bahkan kepalaku didekap dengan kedua tangannya, seolah tak mau wajahku keluar dari kedua bukit indahnya.

Rupanya Wulan tak mau klimaks lagi disitu, sehingga dia cepat-cepat turun dari sofa dan untuk menetralisir, dia malah berlutut di depanku sambil meraih batang kemaluanku yang sedari tadi mengeras. Dengan mulutnya yang mungil dan sensual itu, dia menggodaku dengan menjilat panjang batang kemaluanku dari segala sisi. Setelah makin menjulang tinggi, dikulumnya kepala penisku yang membuat aku kelojotan tapi pasrah saja karena tanganku terikat ke belakang. Puncaknya, dia benamkan mulutnya ke batang kemaluanku dengan sesekali memainkan lidahnya.

Sengaja dia tak berlama-lama biar aku makin penasaran. Wulan lalu naik ke sofa lagi dengan posisi berbalik sehingga punggungnya yang mulus berada di depanku. Pahanya dia renggangkan dan perlahan mendudukiku hingga batang kemaluanku yang tegak bak monas itu terbenam ke vaginanya. ?Aaahh..?, begitu rintihnya waktu mulai masuk dan kian lama kian keras seiring dengan naik turunnya tubuhnya yang bugil total itu. Bibirkupun tak tinggal diam dengan sesekali menciumi punggung, bahu hingga lehernya yang membuatnya makin menggelinjang.

pembantu kecil ku yang imuth....

Ine pembantu kecilku

Namaku Andi, aku mahasiswa di salah satu PTN top di Bandung. Sekarang umurku 20 tahun. Jujur saja, aku kenal seks baru sejak SMP. Aku senang sekali ada situs khusus buat bagi-bagi pengalaman seperti ini, sehingga apa yang pernah kita lakukan bisa dibagi-bagi.
Awal aku mengenal seks yaitu saat secara tidak sengaja aku buka-buka lemari di rumah teman SMP-ku dan menemukan setumpukan Video VHS tanpa gambar di dalam sebuah kotak. Karena penasaran film apa itu, kuambil satu dan langsung kucoba di video temanku di kamar itu yang kebetulan sepi, karena temanku sedang les.
Kusetel film yang berjudul.. apa ya? aku lupa, ternyata itu film dewasa (waktu itu aku belum banyak tahu). Aku cuma pernah dengar teman-temanku pernah nonton film begituan, tapi aku tidak begitu penasaran. Nah, saat itu aku baru tahu itu loh yang namanya BF. Kebetulan itu film seks tentang anak kecil yang masih mungil bercinta dengan bapaknya, oomnya, temannya dan lain-lain.
Dan aku ingin cerita nih pengalaman pertamaku. Kejadian ini terjadi ketika aku masih SMA, di rumahku ternyata ada pembantu baru. Orangnya masih lumayan kecil sekitar 12 tahun lah, tapi itu dia yang membuatku suka. Aku itu suka sama wanitae imut-imut yang masih agak kecil mungkin gara-gara video waktu itu (aku suka begitu melihat situs-situs tentang Lolita, soalnya cewek-cewek di situs-situs itu masih imut-imut). Dan yang paling membuatku terangsang adalah payudaranya yang masih baru tumbuh, masih agak runcing (tapi tidak rata).
Setiap hari itu dia kerjaannya, biasalah kerjaan pembantu rumah tangga, ya ngepel, ya mencuci dan lain-lain. Kalau aku sarapan, kadang suka melihat dia yang sedang ngepel and roknya agak terbuka sedikit, jadi tidak konsentrasi deh sarapannya karena berusaha melihat celana dalamnya, tapi sayang susah. Untuk awal-awal aku hanya bisa minta dibuatkan teh atau susu.
Lambat laun karena aku sudah ingin begitu melihat tubuhnya itu, kuintip saja dia kalau sedang mandi. Tapi sayang karena lubang yang tersedia kurang memadai, yang terlihat hanya pantatnya saja, soalnya terlihat dari belakang. Kadang-kadang terlihat depannya hanya tidak jelas, payah deh. Nah pada suatu hari aku nekat. Kupanggil dia untuk pijati aku, oh iya nama dia Ine.
“Ine.. pijitin saya dong, saya pegel banget nih abis maen bola tadi”, kataku.
“Iya Mas, sebentar lagi ya. Lagi masak air nih, tanggung”, jawabnya.
“Iya, tapi cepet ya. Saya tunggu di kamar saya.”
Cihuy, dalam hati aku bersorak. Nanti mau tidak dia ya aku ajak begituan. Lalu kubuka bajuku sambil menuggu dia. Lalu pintuku diketok,
“Permisi Mas”, ketoknya.
“Masuk aja Ne, nggak dikunci kok”, lalu dia masuk sambil bawa minyak buat mijit.
Mulailah dia memijatku. Mula-mula dia memijat punggungku dan sambil kuajak ngobrol.
“Kamu sekolah sampai kelas berapa Ne?” tanyaku.
“Cuma sampai kelas tiga aja Mas, soalnya nggak ada biaya”, jawab dia.
“Sekarang kamu umur berapa?” tanyaku lagi.
Dia menjawab, “Umur saya baru mau masuk 12 Mas.”
“Udah gede dong ya”, kataku sambil tersenyum.
Lalu aku membalikkan badan, “Pijitin bagian dadaku ya..” pintaku sambil menatap memohon. “Iya mas”, katanya. Dia memijati dadaku sambil agak menunduk, jadi baju yang dia pakai agak kelihatan longgar jadi aku bisa melihat bra yang dia kenakan yang menutupi dua buah payudara yang masih baru tumbuh. Wah, kemaluanku jadi tidak karuan lagi rasanya. Dan aku juga menikmati wajahnya yang masih polos itu. Begitu dia selesai memijati dadaku, aku langsung bilang, “Pijitan kamu enak”, terus aku nekat langsung meraba payudara dia yang imut itu, tapi ternyata dia kaget dan langsung menepis tanganku dan langsung lari dari kamarku. Aku kaget dan jadi takut kalau dia minta berhenti dan bicara dengsn ibuku. Gimana nich? aku langsung dihantui rasa bersalah. Ya sudah ah, besok aku minta maaf saja dengan dia dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.
Benar saja, besok itu dia ternyata agak takut kalau lewat depanku. Aku langsung bicara saja dengan dia.
“Ne.. yang kemaren itu maaf ya.. Saya ternyata khilaf, jangan bilang sama Ibu ya.”
“Iya deh Mas, tapi janji nggak kayak gitu lagi khan, abis Ine kaget dan takut”, kata dia.
“Iya saya janji”, jawabku.
Sebulan setelah peristiwa itu memang aku tidak ada kepikiran untuk menggituin dia lagi. Dan dia juga sudah mulai biasa lagi. Tapi pada suatu hari pas aku sedang mencari celanaku di belakang, mungkin celanaku sedang dicuci. Soalnya itu celana ada duitku di dalamnya. Yah basah deh duitku. Eh, pas aku lewat kamar si Ine, kelihatan lewat jendela ternyata dia lagi tidur. Rok yang dia pakai tersibak sampai ke paha. Yah, timbul lagi deh ide setan untuk ngerjain dia. Tapi aku bingung bagaimana caranya. Akhirnya aku menemukan ide, besok saja aku masukkan obat tidur di minumannya. Dan aku menyusun rencana, bagaimana caranya untuk memberi dia obat tidur.
Besok pas sedang makan dan kebetulan rumah sedang sepi, aku minta dibuatkan teh. Setelah selesai dia buat dan diberikan ke aku. Kumasukkan saja obat tidur ke teh itu. Terus manggil dia,
“Ne.. kok tehnya rasanya aneh sih?”
“Masa sih Mas?” kata dia.
“Cobain saja sendiri”, dia langsung minum sedikit.
“Biasa saja kok Mas..” katanya.
“Coba lagi deh yang banyak”, kataku.
Dia minum setengah, terus aku bilang,
“Ya udah yang itu kamu abisin saja, tapi buatin yang baru.”
“Iya deh Mas, maaf ya Mas kalo tadi tehnya nggak enak”, jawabnya.
“Nggak apa-apa kok”, jawabku lagi.
Aku tinggal tunggu obat tidur itu bekerja. Ternyata begitu dia mau buat teh baru, eh dia sudah ambruk di dapur. Langsung saja kuangkat ke kamarku. Begitu sampai di kamarku, kutiduri di kasurku. Berhasil juga aku bisa membawa dia ke kamarku, pikirku dalam hati. Lalu aku mulai membukan bajunya, gile.. aku deg-degan, soalnya pertama kali nich! Kelihatan deh branya, dan di dalam bra itu ada benda imut berupa gundukan kecil yang bisa membuatku terangsang berat. Lalu kubuka roknya, kelitan CD-nya yang berwarna krem. Tubuhnya yang tinggal memakai bra dan CD membuat kemaluanku semakin tidak tahan. Tubuhnya lumayan putih. Dalam keadaan setengah telanjang itu, posisi dia kuubah menjadi posisi duduk, lalu kuciumi bibirnya, sambil meremas-remas payudaranya yang masih agak kecil itu. Dan tanganku yang satu lagi mengusap CD-nya di bagian bibir kemaluannya. Kumasukkan lidahku ke mulutnya dan aku juga berusaha menghisap dan menjilati lidahnya. Sekitar 10 menitan kulakukan hal itu. Setelah itu kubuka branya dan CD-nya. Wow, pertama kalinya aku melihat seorang gadis dengan keadaan telanjang secara langsung. Payudaranya terlihat begitu indah dengan puting yang kecoklatan baru akan tumbuh. Bagian kemaluannya belum ditumbuhi rambut-rambut dan terlihat begitu rapat.
Langsung kujilati dan kuhisapi payudaranya. Dan payudara yang satu lagi kuremas dan kuusap-usap serta kupilin-pilin putingnya. Putingnya tampak agak mengeras dan agak memerah. Setelah aku mainkan bagian payudaranya, kujilati dari dada turun ke arah perut dan terus ke arah bagian kemaluannya. Bagian itu kelihatan masih sangat polos, dan terlihat memang seperti punya anak kecil. Kubuka kedua pahanya dan belahan kemaluannya, begitu kudekati ingin menjilati. Tercium bau yang tidak kusuka, ah kupikir peduli amat, aku sudah nafsu sekali. Kutahan nafas saja. Kubuka belahan kemaluannya dan aku melihat apa yang di namakan klitoris, yang biasanya aku melihat di situs-situs X, akhirnya kulihat secara langsung. Lalu kujilati bagian klitorisnya itu. Tiba-tiba dia mengerang dan mendesah, “Sshh..” begitu. Aku kaget hampir kabur. Ternyata dia hanya mendesah saja dan tetap terus tidur. Ketika aku jilati itu, ternyata ada cairan yang meleleh keluar dari kemaluannya, kujilati saja. Rasanya asin plus kecut.
Nah sekarang aku dalam keadaan yang amat terangsang, tapi begitu kuperhatikan wajahnya dan ke seluruh tubuhnya aku jadi tidak tega untuk merebut keperawanannya. Aku kasihan tapi aku sudah dalam keadaan yang amat terangsang. Akhirnya kuputuskan untuk masturbasi saja. Soalnya aku tidak tega. Aku pakaikan dia baju lagi dan menidurkan di kamarnya. Yah, aku melepaskan pengalaman pertamaku untuk bercinta dengan seorang gadis mungil berumur 12 tahun! Tidak tahu deh aku menyesal atau tidak.
Setelah melepas kesempatan untuk bercinta dengan Ine. Aku jadi kepikiran terus. Setiap aku apa-ngapain, selalu ingat sama payudara mungilnya Ine dan daerah kemaluannya yang masih polos itu. Untungnya si Ine tidak pernah merasa pernah di apa-apain sama aku. Dia selalu bersikap biasa di depanku tapi akunya tidak biasa kala melihat dia. Soalnya pikiranku kotor melulu.
Pelampiasannya paling aku masturbasi sambil melihat gambar-gambar XX yang aku dapatkan dari situs-situs lolita. Tapi aku bosan juga dan hasrat ingin nge-gituin si Ine semakin besar saja. Sepertinya aku sudah tidak tahan.
Akhirnya pada suatu waktu, aku mendapat kabar yang amat sangat bagus, ternyata orangtuaku mau pindah ke luar negeri, karena bapakku ditugasi ke luar negeri selama 2 tahun. Jadi, aku tidak perlu takut dia mengadu sama ibuku, paling aku ancam sedikit dan aku kasih duit dia diam. Setelah kepergian orangtuaku ke luar negeri, aku langsung punya banyak planning untuk ngerjain dia. Yang pasti aku sudah malas membius-bius segala. Soalnya dia diam saja, tidak seru! Ya sudah aku merencanakan untuk memaksa dia saja (eh, kalau ini termasuk pemerkosaan tidak sih?).
Pada suatu hari, ketika Ine sedang mandi. Kuintip dia. Biasalah, cuma kelihatan belakangnya saja, tapi aku jadi bisa mengantisipasi kalau dia sudah selesai mandi langsung aku sergap saja. Untungnya setelah dia selesai mandi, keluar kamar mandi menuju kamarnya hanya memakai handuk saja tidak pakai apa-apa lagi. Begitu keluar kamar mandi langsung kututup mulutnya dan kupeluk dari belakang, dia-nya meronta-ronta. Cuma tenagaku sama tenaga anak umur 12 tahun menang mana sih. Kubawa masuk ke kamar dia saja. Soalnya kalau ke kamar aku jauh. Nanti kalau dia meronta-ronta malah lepas lagi. Pas masuk kamar dia kujatuhkan dia ke kasur sambil menarik handuknya. Dia kelihatan ketakutan sekali dengan tubuh tidak mengenakan apa-apa.

“Mas Andi, jangan Mas” mohonnya.
“Tidak apa-apa lagi Ne.. Paling sakitnya sedikit entar kamu pasti akan ngerasain enaknya”, kataku.
Dia kelihatan seperti mau teriak, langsung saja kututup mulutnya.
“Jangan coba-coba teriak ya!” hardikku.
Dia mulai menangis. Aku jadi sedikit kasihan, tapi setan sudah menguasai tubuhku.
“Cobain enaknya deh..” kataku.
Sambil tetap menutup mulutnya kuraba dan kuelus payudaranya itu.
“Santai aja, jangan nangis. Nikmati enaknya kalo payudara kamu di elus-elus”, kataku.
Setelah kulepas tanganku dari mulut dia, langsung kucium bibirnya. Ternyata dia lumayan menikmati ciuman sambil payudaranya tetap kuremas-remas. “Enak kan?” kataku. Dia diam saja. Terus kubuka CD-ku. Kukeluarkan batang kemaluanku. Dia kaget dan takut.
“Tolong pegangin anuku donk.. dipijitin ya..” pintaku.
Pertama-tama dia takut-takut untuk memegang anuku, tapi setelah lama dipegang sama dia, dia mulai memijiti. Wah, rasanya enak sekali anuku dipijiti sama dia. Setelah itu dia kusuruh tiduran,
“Mas mau ngapain?” tanyanya.
“Aku mau ngasih sesuatu hal yang paling enak, kamu nikmatin aja” jawabku.
Kubuka belahan pahanya, pertama dia tidak mau buka, tapi setelah kubujuk dia akhirnya membuka pahanya dan kujilati kemaluannya sampai ke klitorisnya. Dia mendesah-desah keenakan. “Tuh kan enak”, kataku. Kujilati sampai keluar cairannya.
Aku merasa pemanasan sudah cukup, begitu kusiapkan batang kemaluanku ke depan liang kemaluannya dia menangis lagi dan berbicara,
“Jangan Mas, saya masih perawan.”
“Saya juga tau kok kamu masih perawan”, jawabku.
Aku tetap bersikeras untuk menyetubuhinya. Pas aku mau mendorong kemaluanku masuk ke dalam liang kemaluannya, eh dia meronta dan mau lari. Dengan cepat kutangkap. Wah, susah nih pikirku. Kebetulan di kamar dia kulihat ada tali untuk jemuran, kuambil dan kuikat saja tangan dan kakinya ke tempat tidur.
“Aku tahu kamu masih perawan, abis gimana lagi aku udah amat terangsang”, kataku.
Dia memandangku dengan tatapan memohon dan sambil dengan keluar air mata.
“Atau kamu lebih suka lewat pantat, biar perawan tetap terjaga?” tanyaku.
“Iya deh Mas, lewat pantat aja ya.. tapi tidak apa-apa kan Mas? Nanti bisa rusak tidak pantat saya?” jawabnya.
“Tidak apa-apa kok”, jawabku.
Ya, sudah kulepaskan talinya. Aku tanya sama dia, dia punya lotion atau tidak, soalnya kalau lewat pantat harus ada pelicinnya. Terus dia bilang punya. Kuambil dan kuolesi ke pantatnya dan kuolesin juga ke kemaluanku.
Langsung saja aku ambil posisi dan si Ine posisinya menungging dan pantatnya terlihat jelas. Aku mulai masukkan ke pantatnya. Pertama agak susah, tapi karena sudah diolesi lotion jadi agak lancar.
“Sslleb.. ahh.. enak sekali”, jepitan pantatnya sangat kuat.
“Aduh.. Mas, sakit Mas..” rintihnya.
“Tahan sedikit ya Ne..” kataku.
Langsung saja kugenjot. “Gile banget, enaknya minta ampun..” Terus aku berfikir kalau lewat kemaluannya lebih enak apa tidak ya? masih perawan lagi. Ah, lewat kemaluannya saja dech, peduli amat dia mau apa tidak. Kulepaskan batang kemaluanku dari pantatnya. Aku membalikkan badannya terus kuciumi lagi bibirnya sambil meremas payudaranya.

Akibat Berenang Bugillll jdi ke"jadian dech...

Hari itu, sekitar jam 12 siang, aku baru saja tiba di vilaku di puncak. Pak Joko, penjaga vilaku membukakan pintu garasi agar aku bisa memarkirkan mobilku. Pheew.. akhirnya aku bisa melepaskan kepenatan setelah seminggu lebih menempuh UAS. Aku ingin mengambil saat tenang sejenak, tanpa ditemani siapapun, aku ingin menikmatinya sendirian di tempat yang jauh dari hiruk pikuk ibukota. Agar aku lebih menikmati privacy-ku maka kusuruh Pak Joko pulang ke rumahnya yang memang di desa sekitar sini. Pak Joko sudah bekerja di tempat ini sejak papaku membeli vila ini sekitar 7 tahun yang lalu, dengan keberadaannya, vila kami terawat baik dan belum pernah kemalingan. Usianya hampir seperti ayahku, 50-an lebih, tubuhnya tinggi kurus dengan kulit hitam terbakar matahari. Aku daridulu sebenarnya berniat mengerjainya, tapi mengingat dia cukup loyal pada ayahku dan terlalu jujur, maka kuurungkan niatku.
“Punten Neng, kalau misalnya ada perlu, Bapak pasti ada di rumah kok, tinggal dateng aja” pamitnya.
Setelah Pak Joko meninggalkanku, aku membereskan semua bawaanku. Kulempar tubuhku ke atas kasur sambil menarik nafas panjang, lega sekali rasanya lepas dari buku-buku kuliah itu. Cuaca hari itu sangat cerah, matahari bersinar dengan diiringi embusan angin sepoi-sepoi sehingga membuat suasana rileks ini lebih terasa. Aku jadi ingin berenang rasanya, apalagi setelah kulihat kolam renang di belakang airnya bersih sekali, Pak Joko memang telaten merawat vila ini. Segera kuambil perlengkapan renangku dan menuju ke kolam.
Sesampainya disana kurasakan suasanya enak sekali, begitu tenang, yang terdengar hanya kicauan burung dan desiran air ditiup angin. Tiba-tiba muncul kegilaanku, mumpung sepi-sepi begini, bagimana kalau aku berenang tanpa busana saja, toh tidak ada siapa-siapa lagi disini selain aku lagipula aku senang orang mengagumi keindahan tubuhku. Maka tanpa pikir panjang lagi, aku pun melepas satu-persatu semua yang menempel di tubuhku termasuk arloji dan segala perhiasan sampai benar-benar bugil seperti waktu baru dilahirkan. Setelah melepas anting yang terakhir menempel di tubuhku, aku langsung terjun ke kolam. Aahh.. enak sekali rasanya berenang bugil seperti ini, tubuh serasa lebih ringan. Beberapa kali aku bolak-balik dengan beberapa gaya kecuali gaya kupu-kupu (karena aku tidak bisa, hehe..)
20 menit lamanya aku berada di kolam, akupun merasa haus dan ingin istirahat sebentar dengan berjemur di pinggir kolam. Aku lalu naik dan mengeringkan tubuhku dengan handuk, setelah kuambil sekaleng coca-cola dari kulkas, aku kembali lagi ke kolam. Kurebahkan tubuhku pada kursi santai disana dan kupakai kacamata hitamku sambil menikmati minumku. Agar kulitku yang putih mulus ini tidak terbakar matahari, kuambil suntan oilku dan kuoleskan di sekujur tubuhku hingga nampak berkilauan. Saking enaknya cuaca di sini membuatku mengantuk, hingga tak terasa aku pun pelan-pelan tertidur. Di tepi kolam itu aku berbaring tanpa sesuatu apapun yang melekat di tubuhku, kecuali sebuah kacamata hitam. Kalau saja saat itu ada maling masuk dan melihat keadaanku seperti itu, tentu aku sudah diperkosanya habis-habisan.
Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh bibir kemaluanku tiba-tiba mataku terbuka dan aku langsung terkejut karena yang kurasakan barusan ternyata bukan sekedar mimpi. Aku melihat seseorang sedang menggerayangi tubuhku dan begitu aku bangun orang itu dengan sigapnya mencengkram bahuku dan membekap mulutku dengan tangannya, mencegah agar aku tidak menjerit. Aku mulai dapat mengenali orang itu, dia adalah Taryo, si penjaga vila tetangga, usianya sekitar 30-an, wajahnya jelek sekali dengan gigi agak tonggos, pipinya yang cekung dan matanya yang lebar itu tepat di depan wajahku.
“Sstt.. mendingan Neng nurut aja, di sini udah ga ada siapa-siapa lagi, jadi jangan macam-macam!” ancamnya
Aku mengangguk saja walau masih agak terkejut, lalu dia pelan-pelan melepaskan bekapannya pada mulutku
“Hehehe.. udah lama saya pengen ngerasain ngentot sama Neng!” katanya sambil matanya menatapi dadaku
“Ngentot ya ngentot, tapi yang sopan dong mintanya, gak usah kaya maling gitu!” kataku sewot.
Ternyata tanpa kusadari sejak berenang dia sudah memperhatikanku dari loteng vila majikannya dan itu sering dia lakukan daridulu kalau ada wanita berenang di sini. Mengetahui Pak Joko sedang tidak di sini dan aku tertidur, dia nekad memanjat tembok untuk masuk ke sini. Sebenarnya aku sedang tidak mood untuk ngeseks karena masih ingin istirahat, namun elusannya pada daerah sensitifku membuatku BT (birahi tinggi).
“Heh, katanya mau merkosa gua, kok belum buka baju juga, dari tadi pegang-pegang doang beraninya!” tantangku.
“Hehe, iya Neng abis tetek Neng ini loh, montok banget sampe lupa deh” jawabnya seraya melepas baju lusuhnya.
Badannya lumayan jadi juga, walaupun agak kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar, seukuran sama punyanya si Wahyu, tukang air yang pernah main denganku (baca Tukang Air, Listrik, dan Bangunan).
Dia duduk di pinggir kursi santai dan mulai menyedot payudaraku yang paling dikaguminya, sementara aku meraih penisnya dengan tanganku serta kukocok hingga kurasakan penis itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai vaginaku dan menggosok-gosok bibirnya.
“Eenghh.. terus Tar.. oohh!” desahku sambil meremasi rambut Taryo yang sedang mengisap payudaraku.
Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di kemaluanku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk. Aku sampai meremas-remas payudara dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan vaginaku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut si Taryo yang sedang menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah Taryo melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.
Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalahnya nafasnya agak bau, entah bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku yang halus tanpa jerawat sampai wajahku basah oleh liurnya.
“Gua ga tahan lagi Tar, sini gua emut yang punya lu” kataku.
Si Taryo langsung bangkit dan berdiri di sampingku menyodorkan penisnya. Masih dalam posisi berbaring di kursi santai, kugenggam benda itu, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.
Mulutku terisi penuh oleh penisnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala penisnya yang mirip helm itu, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga tubuh pemiliknya bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.
“Eemmpp.. emmphh.. nngg..!” aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala penis itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan cairan itu, tapi karena banyaknya cairan itu meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar penisnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku, kacamata hitamku juga basah kecipratan maninya.
Kulepaskan kacamata hitam itu, lalu kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa sperma yang menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu terbuka dan Pak Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil. Aku sendiri sempat kaget dengan kehadirannya, aku takut dia membocorkan semua ini pada ortuku.
“Eehh.. maaf Neng, Bapak cuma mau ngambil uang Bapak di kamar, ga tau kalo Neng lagi gituan” katanya terbata-bata.
Karena sudah tanggung, akupun nekad menawarkan diriku dan berjalan ke arahnya.
“Ah.. ga apa-apa Pak, mending Bapak ikutan aja yuk!” godaku.
Jakunnya turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke payudaraku. Aku mengelus-elus batangnya dari luar membuatnya terangsang.
Akhirnya dia mulai berani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.
“Neng, tetek Neng gede juga yah.. enak yah diginiin sama Bapak?” Sambil tangannya terus meremasi payudaraku.
Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana panjangnya, setelah itu saya turunkan juga celana kolornya. Nampaklah kemaluannya yang hitam menggantung, jari-jariku pun mulai menggenggamnya. Dalam genggamanku kurasakan benda itu bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan batang di genggamanku itu ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga pemiliknya mengerang keenakan
“Wah, Pak Joko sama majikan sendiri aja malu-malu!” seru si Taryo yang memperhatikan Pak Joko agak grogi menikmati oral seks-ku.
Taryo lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kemaluannya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua penis yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian Taryo pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku mulai merasakan ada benda yang menyeruak masuk ke dalam vaginaku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci penisnya memasuki vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada penis Pak Joko makin bersemangat. 

Rupanya aku telah membuat Pak Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Perasaan ini sungguh sulit dilukiskan, ketika penis si Taryo menyentuh bagian terdalam dari rahimku dan ketika penis Pak Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan payudara atau meremasi pantatku. Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Joko. Bersamaan dengan itu pula genjotan si Taryo terasa makin bertenaga. Kami pun mencapai orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan.
Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya.
“Neng, boleh ga Bapak masukin anu Bapak ke itunya Neng?” tanya Pak Joko lembut.
Saya cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi, “Tapi Neng istirahat aja dulu, kayanya Neng masih cape sih”.
Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, Taryo duduk di sebelah kiriku dan Pak Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya. Yang satu ditepis yang lain hinggap di bagian lainnya, lama-lama ya aku biarkan saja, lagipula aku menikmatinya kok.
“Neng, Bapak masukin sekarang aja yah, udah ga tahan daritadi belum rasain itunya Neng” kata Pak Joko mengambil posisi berlutut di depanku.
Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala merestuinya, dia arahkan penisnya yang panjang dan keras itu ke vaginaku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir kemaluanku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas penis Taryo yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.
“Aahh.. Pak cepet masukin dong, udah kebelet nih!” desahku tak tertahankan.
Aku meringis saat dia mulai menekan masuk penisnya. Kini vaginaku telah terisi oleh benda hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk memberi sensasi nikmat ke seluruh tubuh.
“Wah.. seret banget memeknya Neng, kalo tau gini udah dari dulu Bapak entotin” ceracaunya.
“Brengsek juga lu, udah bercucu juga masih piktor, gua kira lu alim” kataku dalam hati.
Setelah 15 menit dia genjot aku dalam posisi itu, dia melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke penisnya. Dengan refleks akupun menggenggam penis itu sambil menurunkan tubuhku hingga benda itu amblas ke dalamku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku yang padat berisi itu, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua payudaraku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Pak Joko memperhatikan penisnya sedang keluar masuk di vagina seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tak habis pikir betapa untungnya berkesempatan mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah lama tidak dirasakannya.
Goyangan kami terhenti sejenak ketika Taryo tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan payudaraku makin tertekan ke wajah Pak Joko. Taryo membuka pantatku dan mengarahkan penisnya ke sana
“Aduuh.. pelan-pelan Tar, sakit tau.. aww!” rintihku waktu dia mendorong masuk penisnya.
Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua batang penis besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari tubuhku. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika Taryo menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, Taryo malah makin buas menggenjotku. Pak Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut.
Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Pak Joko. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Joko, dan Taryo menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku, di air nampak sedikit cairan putih susu itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap. 

Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Eh.. ternyata mereka mengikutiku dan memaksa ikut mandi bersama. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. Bagian kemaluan dan payudaraku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir
“Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih” disambut gelak tawa kami.
Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun kembali digarap di kamar mandi.
Hari itu aku dikerjai terus-menerus oleh mereka sampai mereka menginap dan tidur denganku di ranjang spring bed-ku. Sejak itu kalau ada sex party di vila ini, mereka berdua selalu diajak dengan syarat jangan sampai rahasia ini bocor. Aku senang karena ada alat pemuas hasratku, mereka pun senang karena bisa merasakan tubuhku dan teman-teman kuliahku yang masih muda dan cantik. Jadi ada variasi dalam kehidupan seks kami, tidak selalu main sama teman-teman cowok di kampus. Lain hari aku akan menceritakan bagaimana jahilnya aku mengerjai teman-teman kuliahku sehingga mereka jatuh ke tangan Pak Joko dan Taryo dan juga pengalaman-pengalamanku lainnya, harap sabar yah, soalnya kan aku juga sibuk

CINTA 1 MALM ASYK..JUGA...!!1

Nafsu Semalam

Namaku Marwan, umurku 26 tahun, seorang pengangguran. Aku pernah sekali menjadi gigolo (yah.. sebutan kasarnya). Ketika itu aku baru pertama kali merantau dari kampungku di pulau Jawa ke Banjarmasin. Seorang temanku bekerja di sana. Aku menyusul temanku itu ketika dia mengirimiku alamat yang cukup jelas, lagipula aku dengar Farid, nama temanku itu, sukses di perantauan. Dia bekerja di sebuah pabrik pengolahan kelapa sawit.

“Daripada kamu nganggur di kampung, lebih baik ke Banjarmasin saja, Wan. Kebetulan lagi ada lowongan kerja.” begitu katanya suatu kali. Berbekal uang tujuh ratus ribu aku berangkat ke Banjarmasin.

Setibanya di pelabuhan Farid menjemputku. Dari situlah aku tahu kehidupan Farid yang benar-benar kecukupan. Rumahnya tak besar, tapi cukup bagus, dan yang pasti rumahnya sendiri.
“Wah.. kamu benar-benar hebat, Rid.” pujiku.
“Pintar-pintar kita saja cari duit, Wan. Setidaknya punya obyakan sampingan.” jawab Farid dengan senyum yang misterius.

Aku nggak langsung dapat kerja, tapi nunggu dulu karena ternyata lowongan di tempat kerja Farid sudah terisi. Karena nggak kerja semakin lama semakin habis uang yang kubawa dari kampung. Sebenarnya makanku ditanggung sama Farid, tapi nggak enak kan kalau setiap hari, sedangkan tahu sendiri kalau biaya hidup mahal di Banjarmasin.

Setelah satu bulan numpang di rumah Farid aku mulai tahu apa sebenarnya obyekan sampingan Farid yang tak lain adalah melayani nafsu tante-tante girang (alias gigolo). Bergidik juga aku ketika suatu malam mendengar suara-suara gaduh yang janggal di kamar sebelah (kamarnya Farid). Ketika aku intip, ehh.. Si Farid lagi disepong sama seorang wanita stw. Habis itu aku melihat Farid dikasih beberapa lembar ratusan rupiah. Dan ketika Farid tahu kalau aku pergoki, dia cuman tersenyum kecut.

“Kalau mengandalkan gaji buruh pabrik sih, nggak bisa kirim ke kampung.” itu dalihnya.
Bahkan setelah aku tahu kalau Farid adalah seorang gigolo, dia malah semakin tak sungkan melakukan bisnis mesumnya itu di rumah. Iiih.. betapa tersiksanya aku mendengar deru-deru nafas mereka di kamar sebelah setiap malam. Walau sebenarnya aku ngiler juga. Bayangkan setiap malam Farid bisa mengeloni dua sampai tiga wanita, dan tidak semuanya stw. Ada juga yang sepertinya masih lajang. Setiap malam pula omsetnya bisa sampai dua juta. Ngiri banget aku.

Malam itu aku tak menyia-nyiakan kepergian Farid. Dia nggak pulang malam ini, lembur katanya. Dan kebetulan sekali telpon berbunyi. Siapa tahu dari langganan Farid, karena biasanya transaksi mereka terjadi via telpon.
“Halo Farid..aku Sandra.” terdengar suara mendesah di seberang begitu telepon diangkat.
“Aku tunggu di Platinum 156, cepat yah.. aku sudah telanjang sekarang..”
Glek! Aku telan air liurku berkali-kali. Job Farid datang. Bagaimana nih? Apa aku harus datang? Aku lihat isi dompetku, tinggal dua ratus ribu doang. OK deh, aku datang.

Hotel Platinum, tak susah mencarinya. Kemarin malam aku diajak Farid keliling-keliling kota dan sempat makan di restoran hotel itu. Setelah bertanya letak kamar kepada resepsionis aku segera menuju kamar 156. Didepan kamar aku kembali ragu, masuk atau tidak ya? Masuk tidak masuk tidak, aku hitung kancing kemejaku. Masuk.

Kreek..
Pintunya tak dikunci. Aku masuk dengan ragu-ragu. Kamar hotel itu seluas kamar Farid walau sedikit lebih bagus penataan ruangnya. Seorang wanita berumur 30 tahunan berada di atas ranjang. Dia agak terkejut ketika menyadari bukan Farid yang datang. Tapi kemudian dia tersenyum genit. “Siapapun kau aku ingin bercinta denganmu. Kemarilah..”

Sandra beranjak dari ranjang. Glek. Kutelan liurku ketika hendak meleleh. Wanita yang hanya memakai stoking rajut tipis tanpa CD dan BH itu segera mendekatiku. Stokingnya hanya sebatas lutut, lengannya juga tertutup stoking tapi badannya polos sama sekali. Seekor kupu-kupu menghias di payudaranya sebelah kiri. Kedua gumpalan dadanya sekal dan besar banget, dan menantang banget. Begitu menantang sampai-sampai burungku bangun.

Sandra mengitari tubuhku yang sedikit gemetaran.
“Siapa namamu, sayang..” desah serak-serak seksi itu menyembur tipis di belakang telingaku.
“Ss.. saya Marwan.” jawabku gemetaran.
“Marwan? Hmm.. jangan panik, kamu baru pertama ya? Aku suka banget..” kata Sandra sambil menggosok-gosokkan kemaluannya yang gundul ke pahaku.
Siir.. tiba-tiba saja penisku tegang.
“Kalau gitu aku ajarin yah..” tambahnya sambil menggosokkan kemaluannya makin keras dan makin mepet di pahaku sampai celanaku sedikit basah oleh cairan yang keluar dari vaginanya.

Lalu perlahan wanita yang sedikit jangkung itu mencium bibirku lalu berkata
“Balaslah Wan, hisaplah bibirku”.
Aku menghisap bibir tebalnya. Bibiritu terasa kenyal banget ditambah bau tubuhnya yang wangi. Tiba-tiba Sandra memegang kemaluanku, aku sangat kaget.
” Wah pistolmu sudah tegang Wan,” kata Sandra sambil tangannya dimasukkan kedalam celana jeansku. Darahku berdesir-desir, nafasku kembang kempis dirangsang sedemikian rupa.

Sandra berusaha melepaskan celana jeansku, tapi bibirnya masih terus aku lumat dengan penuh nafsu hingga akhirnya aku tinggal memakai celdam saja. Kami masih saling melumat, tapi tanganku mulai menggerayangi dada sekal Sandra. Tanpa gemetar lagi aku memegang buah dadanya dan memelintir putingnya. Sandra mendesis-desis lirih merasakan kenikmatan belaianku.
“Wan.. kamu memabukkan..ehgh..”
Nafasnya memburu berpacu dengan nafasku.

Aku menuruni leher mulus Sandra lalu berlabuh di kedua gundukan buah dadanya. Lalu dengan memberanikan diri aku menciumi putingnya, dan Sandra bertambah mendesis,
“Teruslah Wan, terus.. ach.. nikmat banget..”.
Tanganku meremas-remas kedua bokong Sandra yang padat dan sekal. Sesekali jemariku menyusuri belahan pantat itu terus sampai ke lubang vaginanya. Sandra yang semakin kegelian semakin merapatkan tubuhnya sehingga aku semakin leluasa mengenyot payudaranya. Aku hisap putingnya kuat-kuat membuat Sandra mendorong kepalaku semakin terbenam diantara belahan payudaranya. Aku sadari betul perubahan yang terjadi pada buah dada Sandra, semakin membengkak menggemaskan dan putingnya tegang, kenyal dan menantang.

“Wan.. ach.. ehmm ehmm” Sandra kembali melenguh-lenguh ketika jemariku mengutak-utik klitorisnya. Entah sudah berapa kali vagina itu mengeluarkan lendir kenikmatan birahi Sandra. Panas birahinya sudah sampai di ubun-ubun.

Setelah puas menghisap puting buah dada Sandra aku mencoba menciumi vaginanya, tapi Sandra berkelit.
“Aku pengin pistolmu dulu, pangeranku..” katanya kemudian.
Sandra mendorongku terlentang diatas kasur empuk kemudian dia menungging diatas tubuhku kemudian sibuk menciumi penisku yang masih tertutup celdam krem. Posisi Sandra yang menungging memunggungiku membuatku leluasa mengutak-atik klitorisnya kembali. Kemudian aku memasukkan jempol kiriku ke dalam lubang kawinnya.
“Uach.. Marwaann..”

Mudah sekali jempolku itu masuk ke dalam vaginanya. Lendir kental mengalir di selakangnya. Aku permainkan jempolku keluar masuk vaginanya, Sandra semakin bergelinjangan. Entah saking tak tahannya, Sandra segera mengeluarkan penisku dari CD lantas mengemutnya.

“Egh.. ach..Sand..”
Dadaku sesak menahan birahi yang meletup-letup didadaku. Baru pertama kali ini batang kemaluanku dihisap oleh seorang wanita. Sandra begitu terampil mengenyotnya. Semakin kuat Sandra menyedotnya dan
Crot..crot.. aku tak tahan lagi.
Spermaku keluar begitu saja. Tapi Sandra begitu menikmati spermaku yang muncrat seluruhnya ke dalam mulutnya.
“Mhmm.. nikmat Wan.. aku suka, lagi dong..”

Begitu Sandra hendak mengenyot penisku lagi, aku segera menarik bokongnya hingga hampir menduduki mukaku. Langsung saja aku sedot vaginanya
“Aaach..” teriak Sandra tertahan.
Sudah tak tahan aku, aku kerjain vagina Sandra habis-habisan. Aku ciumi, aku gigit-gigit klitorisnya bahkan aku sudah berhasil memasukkan tiga jari tengahku sekaligus. Sandra misuh-misuh tapi segera mendehem-dehem keenakan. Aku sudah tak
terkendalikan. Kalau sejak tadi aku seperti diajari sama Sandra, kali ini aku bekerja dengan naluriku sendiri. Dan kurasa Sandra tak keberatan, karena sekarang dia mendengking-dengking keasyikan.

Sruup..sruup..
Lendir kawin Sandra aku sedot dengan kekuatan penuh. Seluruh tubuhnya menggelinjang liar, lalu kembali lendir-lendir itu mengalir deras bagai sungai.
“Ough.. Wan, aku nggak tahan lagi..” erang Sandra semakin melebarkan selakangnya.
Lalu penisku dipegangnya dan dimasukkan kedalam vaginanya yang sudah licin berlendir. Perlahan-lahan batang pistolku amblas ke dalam lubang vagina Sandra,
“Ach.. engh..” desisnya kemudian.
Dan Sandra mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya ketika aku mulai mengocok-ngocok penisku. Penisku terasa mengembang didalam vagina Sandra, Sandra pun semakin mendesis.
“Ach.. Wan.. ehm.. ah..”

Jemariku meremas-remas payudaanya. Sandra terus menggoyang-goyangkan pantatnya sambil berkata, “Aku mau datang nih.. “.
“Hegh eh..” hanya itu yang aku jawab sebab aku masih sibuk menggenjot vaginanya.
Dan tak lama kemudian Sandra menjerit histeris karena orgasme dan mengeluarkan lendir kawinnya disela-sela penisku yang masih tegang. Semakin liar aku remas-remas kedua buah dada Sandra hingga beberapa menit kemudian aku berbisik
“San.. sedikit lagi aku juga mau keluar”.

Kemudian aku semakin memperkuat tekanan batang penisku keliang vagina Sandra, sehingga tidak lama setelah itu aku memuncratkan air maniku kedalam vagina Sandra bersamaan dengan keluarnya cairan kawinnya untuk kedua kalinya.
“Uwah..” pekik kami bersamaan.

Belum puas aku memompa penisku yang masih haus, aku meminta Sandra menungging. Dari belakang aku segera menekan masuk penisku diantara pantatnya. Sandra mengejang beberapa saat. Tampaknya lubang pantatnya masih sangat sempit hingga penisku sedikit kesulitan menembusnya.
“Egh.. ach.. sakit Wan..” erang Sandra.
Akhirnya seluruh batang penisku sanggup menembus masuk ke lubang pantat Sandra. Bagai remuk penisku digencet lubang yang masih sempit itu. Tapi sedikit tertolong karena spermaku kembali keluar membasahi liangnya. Kembali aku kocok-kocok penisku maju mundur. Sandra mengerang panjang merasakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah dirasakannya. Tangannya meremas-remas payudaranya sendiri yang sudah sangat bengkak, bagai mau meledak. Aku pompa penisku sampai lima balas menit, setelah itu aku mengerang kembali mendapatkan puncak libidoku.

Penisku aku cabut dari dubur Sandra. Terasa tubuh ini sangat lemas, Sandra berbaring di sampingku. Kami saling berpelukkan dan berciuman. Ranjang itu sudah berantakan sekali.
“Wan.. kamu hebat, bahkan lebih hebat dari Farid. Sepertinya aku mencintaimu.” bisik Sandra sambil terus menciumiku.
“Kamu mencintaiku atau mencintai pistolku?” sindirku.
“Hi.. hi.. kamu ini bisa saja..” Sandra mengikik lirih sambil menyentil-nyentil batang penisku yang belum lemas benar.
“Kamu masih mau berlayar lagi, San?” tanyaku kemudian karena merasakan libidoku sedikit bangkit.
“Ah.. tidak sekarang, aku sudah tak kuat. Tapi aku puas banget say..”
“Kalau begitu jangan coba-coba membangunkannya, atau kita akan kembali melayang di atas angin.” bisikku membuat Sandra semakin geli.

Ketika aku hendak pergi mandi aku lihat tubuh Sandra yang full naked itu. Kedua buah dadanya merah membengkak sedikit menguatirkan. Bekas-bekas remasan tangan-tangan kami menghias di kegua gundukan bengkak itu. Putingnya sedikit menghitam, mungkin karena aku terlalu kuat menyedotnya. Wajah Sandra terlihat kusut, tapi masih cantik. Keringatnya masih membasahi tubuh jangkung nan langsing itu. Beberapa kali terdengan gumaman dari bibir tipisnya, mungkin masih menikmati sisa-sisa pelayaran kami. Aku tersenyum tipis lalu masuk ke kamar mandi.

Begitulah, aku menjadi pemuas nafsu Sandra. Kami sama-sama puas dengan permainan kami barusan. Setelah itu Sandra menceritakan tentang sisi kehidupannya kepadaku. Dan tak lupa di akhir perjumpaan kami, di tengah malam buta, Sandra menyelipkan sebuah amplop ke dalam CD-ku. Kami berpelukan sebelum aku pergi, dan berjanji akan memanggilku lagi kalau dia sewaktu-waktu dia membutuhkan.

ntikan certa sex selanjutnya....

Jumat, 16 Juli 2010

tips bangkitkan gairah CEWE..

11 Tips membangkitkan gairah SEX Istri

Bagi teman-teman dan Pembaca sekalian yang belum mempunyai "Istri" jangan coba-coba untuk melakukan Tips di bawah ini karena akan berakibat Fatal jika tidak tersalurkan.Hehe..^_^.Saya pribadi sih tidak "Munafik" bahwa SEX itu memang suatu kebutuhan dan Surgawinya dunia.Saran saya sih Lakukan-lah Hubungan SEX dengan orang yang Sobat Sayangi dan Cintai tapi bukan berarti Pacar atau Tunangan y takutnya nanti bisa kecanduan dan Kebablasan.Dianjurkan Jika anda masih Belum Menikah jangan melanjutkan Membaca Tips Membangkitkan Gairah Sex Istri.

Nah ketahuan y Sobat masih melanjutkan Membacanya.Memang y SEX selalu menjadi keyword SEO yang paling ampuh.Y sudah deh terusin saja membacanya tapi Resiko di tanggung sendiri y kalau salah dipergunakan Ilmu..... maksudnya "Sharing Ilmu Pengetahuan"...

Sebelumnya jika anda memang Masih status Pacaran maka anda harus membaca bagaimana tipsPacaran Yang Sehat

1. Hari ke 14 sesudah menstruasi
Seorang wanita akan sangat bergairah pada masa ovulasi dan biasanya dua minggu sesudah hari terakhir menstruasinya. (Makanya Pelajaran Biologi jangan di Lupakan)..^_^

2. Suasana romantis
Putar lagu yang romantis, ajak dia berdansa, beri dia sedikit minuman.Yakinlah, dia akan bergairah.Tapi ingat jangan Minum yang Beralkohol y karena tidak ada Hubungan Sex yang di lakukan "NIKMAT" kalau salah 1 sedang Fly alias Mabok berat cuy..

3. Film romantis
Kebanyakan wanita akan terbawa perasaannya dan gairahnya akan meningkat bila menonton film-film romantis seperti misalnya film "Titanic" yang dibintangi oleh Leonardo Di Caprio.

4. Cinta jarak jauh
Hubungan jarak jauh memiliki potensi yang hebat dalam kehidupan seks Anda karena jarak jauh untuk beberapa lama akan membuat rasa rindunya kepada Anda sehingga rasa rindu akan terlepas dahsyat pada saat bertemu kembali.

5. Puasa
Semakin lama seorang wanita tidak melakukan hubungan seks, semakin tinggi gairah seksnya.SEX itu di ibaratkan kebutuhan Primer bagi semua orang.Bayangkan saja kalau anda tidak Makan 3 Hari pasti NAFSU MAKAN-NYA meningkat kan??hehe..^_^

6. Sesuatu yang baru
Gunakan kreativitas Anda, lakukan hubungan seks lain dari yang biasa Anda berdua lakukan. Seks kilat di pagi hari atau seks di dapur, di bath tub, atau bahkan di dalam mobil, akan sangat menggairahkannya.

7. Sesudah bertengkar
Mitos yang mengatakan bahwa selesaikan dengan seks, ternyata betul..(Kata Siapa??)
Anda tidak perlu khawatir dan ragu-ragu walaupun telah membuatnya sangat marah dan menangis. Tenangkan dirinya, hapus air matanya, dan lakukanlah hubungan intim.Meskipun setelah berhubungan Intim beberapa saat kemudian BERTENGKAR lagi...Haha..Ga Masalah-lah yang penting kan sudah terpenuhi Kebutuhan SEX nya..

8. Saat bahagia dan Mood On
Sama halnya dengan kemarahan dan kesedihan, rasa bahagia yang berlebihan juga dapat mempengaruhi suasana hati seorang wanita. Jadi pada saat dia mendapatkan pekerjaan baru atau pada waktu mengalami suatu kejadian yang membuat hatinya sangat gembira, itulah saatnya untuk menyalurkan seluruh energi positif kedalam hubungan seks yang hebat.

9. Sedang stress
Pada saat sedang stres, libido seorang wanita meningkat. Bila Anda memperhatikan bahwa pasangan sedang mengalami stres, ketahuilah bahwa dia akan menghargai bila Anda menawarkan padanya untuk mengendurkan stres yang sedang dialaminya dengan berintim-intim.

10. Perasaan cemburu
Yang dimaksud disini bukanlah cemburu yang disebabkan oleh kejiwaan, melainkan cemburu kecil-kecilan seperti misalnya pada saat Anda bertabrakan dengan tidak sengaja dengan seorang wanita cantik, atau pada saat Anda terpaku menonton film yang dibintangi oleh artis favorit Anda. Jangan biarkan perasaan cemburunya berkembang terlalu jauh karena hal tersebut akan sangat menyakiti hatinya........

hati-hati.........................................................................................ya.......

PEMAIN GILA OKE JGA..YA...............

Kami adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama hampir 2 tahun dan
belum mempunyai anak. Istriku, Lena, berusia 25 tahun, cukup seksi dan manis
dengan kulit kuning langsat dan sebuah lesung pipit yang menghiasi pipi kanannya.
Lena cukup tinggi untuk ukuran orang Asia, dengan tinggi 168 cm dan berat 48 kg
membentuk tubuhnya yang 34C-25-34. Sedangkan aku sendiri bernama Ara, 30 tahun,
185 cm – 80kg. Kulitku sedikit gelap akibat hobi golfku yang sedikit agak
kelewatan. Orang bilang tubuhku atletis padahal aku malas berolah raga. Paling
hanya golf saja, atau kadang-kadang renang.

Istriku bekerja di salah satu perusahaan multi nasional di Jakarta dan mempunyai
karir yang cukup baik, sedangkan aku sendiri lumayan sukses berwiraswasta
sebagai kontraktor jalan dan bangunan. Secara ekonomi dapat dikatakan kami
berkecukupan, apalagi kami tidak ada tanggungan, baik saudara maupun orangtua.
Mungkin itulah yang menyebabkan kami hobi “dugem” setiap malam minggu sekedar
untuk melepas lelah pikiran dan kejenuhan hidup di Jakarta.

Namun di malam minggu itu ada sesuatu yang lain yang mengubah hidup kami. Di
malam itu, sengaja atau tidak, untuk pertama kalinya istriku berselingkuh di
depan mataku. Dan aku membiarkannya. Begini awal ceritanya..

“Ra, ayo dong.. Kok dandannya lama amat?!” Lena, istriku, berteriak dari lantai
bawah rumah kami. Aku yang memang sedang mematut diri di depan kaca tersenyum
mendengarnya, lalu membalas..
“Iya, sabar sayang, sebentar lagi!”

5 menit kemudian aku turun dan mendapatinya sedang cemberut di sofa ruang tengah
kami. Lena tampak sangat “cute” dengan terusan tipis berdada agak terlalu
terbuka berwarna merah marun, sedikit di atas lutut dan tanpa lengan. Sepatu hak
7 cm dengan warna senada menambah keserasian dan keseksiannya. Dengan polesan
make-up sederhana, ia tampak manis. Sepertinya ia tidak mengenakan bra.

“Let’s go, babe.. Senyum dong. Kan mau seneng-seneng?” demikian aku membujuknya
sambil kugamit lengannya yang mulus dan halus.
“Hh.. BT nih nungguin kamu! Cium dulu, kalo nggak aku ngambek..!” Lena
memonyongkan bibirnya lucu. Aku tersenyum, dan kucium pipinya lembut.
“Cup! Tuh, udah dicium. Jangan ngambek lagi dong. Yuk, kita berangkat”. Sedikit
kutarik lagi lengannya.
“Hei.. Di bibir. Masa di pipi? Dasar deh, nggak romantis!” Lena makin cemberut
dan membuang muka, pura-pura ngambek. Maka kupegang dagunya, dan kutolehkan
wajahnya ke wajahku, lalu kukecup bibirnya yang tipis itu. Tak dinyana, Lena
melakukan “french kiss” yang membuat penisku agak mengeras.
“Hihihi.. Kok jadi sesak gitu, celananya? Payah deh, gitu aja napsu”. Lena
cekikikan sambil tangannya mengelus ringan depan celanaku. Penisku jadi makin
keras. Tapi cepat kutampik hal itu karena memang kita sudah harus berangkat. Jam
sudah menunjukkan pk. 11:30 malam.
“Namanya juga lelaki.. Hehe. Yuk, ah. Udah malem nih, nggak enak nanti
ditungguin teman-teman”. Aku menggamitnya sekali lagi dan kali ini Lena menurut.
Berangkat juga kami akhirnya.

*****

Setibanya kami di sebuah Nite Club berlantai dua di bilangan Kuningan, waktu
telah menunjukkan lewat tengah malam. Langsung saja kami menuju lantai 2 yang
menawarkan musik bernuansa pop-jazz yang ringan dan mudah dinikmati. Dari salah
satu pojokan, seorang sahabat Lena, Poppy, melambaikan tangannya memanggil kami
dan bereriak agak keras, berusaha mengatasi suara hingar-bingar band yang sedang
beraksi.

“Yuhuu!! Sini, sini!! Ya amplop.. Malem banget sih kalian?? Kita-kita udah pada
mau pulang nih!” Poppy meledek kami sambil pura-pura menenteng tasnya dan
berjalan pergi.
“Kalau jam segini udah mau pulang, kenapa loe nggak nonton bioskop aja, Neng?
Ati-ati ya di jalan..” demikian sergah Lena. Aku cengar-cengir saja
memperhatikan mereka.

Kulihat “gank” kami yang biasa sudah kumpul semua. Pertama ada Poppy dan
pacarnya (seorang keturunan Chinese yang cukup ganteng bernama Benny). Mereka
masih menunggu restu orang tua untuk menikah karena, maklum, berbeda suku/keturunan.
Poppy adalah seorang gadis Sunda yang entah mengapa mirip keturunan indo. Lalu
yang sedang menyalakan cerutu kesukaannya adalah sahabat kentalku Reno dan
istrinya yang seorang model, Carol, yang malam itu.. Hmm.. Luar biasa dengan rok
mini dari bahan kulit warna coklat tua, yang memperlihatkan hampir seluruh paha
mulusnya, dipadukan dengan blouse ketat berlengan 3/4 warna putih dan cukup
tipis. Ditambah dengan sepatu hak tingginya membuatku menelan ludah.

“Hi, guys. Sorry kemaleman. Abis gue dandannya lama sih. Takut Carol nggak
naksir lagi, nanti. Anyway, Ren, bisa teler gue nyium bau cerutu loe, jeg!”

Aku ngomong sekenanya sambil tertawa. Carol senyam-senyum (GR kali) dan Reno
pura-pura pingsan sambil memeletkan lidahnya, sambil jari tengahnya diacungkan
ke arahku.

“Emang nih, genit deh Si Ara.” Lena berkata seakan setuju dengan ekspresi Reno
sambil mencibir ke arahku dan tangan kirinya menjewer telinga kananku keras-keras.
Aaww!

Kulihat lagi duduk-duduk santai di sebelah Poppy, sambil merokok, jelalatan
dengan jakun yang turun-naik karena memolototi makhluk-makhluk feminin yang
berpenampilan “minimalis” alias 2/3 telanjang, dua bujang lapuk kawan-kawanku
sejak SMA, Gary dan Eddy. Mereka tidak pernah membawa pasangan kalau lagi di
Club.

“Ngapain kita bawa makanan kalau mau ke buffet?” demikian celetuk Eddy suatu
waktu yang lalu saat kutanyakan alasannya. Benar juga, pikirku waktu itu. Hehehe.
“Jangan sampai gitu dong, prens.. Nanti bajunya pada lepas semua!” sambil
terbahak Benny mendorong Gary agak keras sampai-sampai Eddy yang duduk
disebelahnya ikut terdorong. Mata Benny yang agak sipit sampai tinggal segaris..
Eh, dua garis deh.
“Sial, loe, Ben. Minuman gue ampir tumpah! Gue guyur loe, ye!” Eddy mencak-mencak
sambil berlagak mau menyiram Benny dengan segelas XO nya yang baru sedikit
dicicipi.
“Sini, guyur ke dalam mulut gue. Hehehe.” Benny mangap-mangap persis ikan koki.
Kocak sekali wajahnya. Lena dan Poppy sampai tertawa keras sekali. Gary balas
mendorong Benny sambil menjitaknya pelan.

Begitulah, kami berdelapan memang sangat akrab satu dengan yang lainnya, jadi
memang seru kalau sudah ngumpul semua begini. Rata-rata sudah sekitar 5-10 tahun
kami berteman. Ada yang dari SMA seperti aku, Gary dan Eddy, ada yang dari
kuliah dan ada yang dari teman sekantor, seperti Poppy dan Lena, dan Reno & Eddy.
Dari pertemanan seperti itulah kami bertemu, merasa sangat cocok satu dengan
yang lainnya, dan lalu bersahabat seperti sekarang.

“Gini, gini..” Gary tiba-tiba angkat bicara dengan logat betawinya yang khas.
“Gue ade usul, dijamin seru. Tapi kagak ada yang boleh marah atawa tersinggung.
Gimane, broer and sus?” Teman kita yang satu ini memang segudang idenya. Ada
yang waras tapi lebih banyak yang aneh bin ajaib alias norak.
“Usul ape loe, Bang? Jangan kayak nyang kemaren ye.. Bikin gue malu abis.
Sompret loe!” Eddy nggak mau kalah betawi.

Beberapa minggu yang lalu memang Gary mengajak main “truth or dare” yang
mengakibatkan Eddy lari keliling lapangan parkir salah satu restoran di bilangan
Kemang dengan hanya bercelana dalam. Kakinya yang kurus dan tanpa bulu itu benar-benar
pas buat diteriaki oleh para pengunjung yang lain, “Wow, seksi bener nih.. Tapi
kok jenggotan ya??” Hobi temanku yang satu ini memang memelihara jenggot sejak
SMA, dan cukup lebat pula.

“Diem dulu loe. Lagian ini buat para cewek-cewek. Loe kan kakinya doang yang
wanita, sisanya waria..” sambaran maut Gary yang demikian membuat Eddy mati kutu.
“Jadi..” lanjut Gary, “Setuju nggak?”

Kami saling berpandangan. Aku sendiri agak was-was kalau Gary yang memberi usul,
karena biasanya diperlukan keberanian extra untuk “bermain” dengannya.

“Apa dulu idenya?” Lena dan Poppy bicara hampir bersamaan. Sedangkan Carol malah
cuek, asik mengepulkan asap berbentuk bulatan-bulatan dari mulutnya. Mulai suka
bercerutu ria juga, dia ternyata. Reno juga agak cuek sambil memeluk pinggang
istrinya tersebut dengan mesra sambil menciumi tengkuk Carol yang jenjang.
Sialan, pikirku. Si Reno hoki bener bisa dapet bini kayak bidadari begitu. Aku
tahu Lena juga cantik, tapi yah, rumput tetangga memang selalu terlihat lebih
hijau!

“Loe pade lihat itu segerombolan cowok-cowok yang di meja seberang?” Gary
menyorongkan dagunya ke arah yang dimaksud.
“Yang dari tadi gue perhatiin pada jelalatan ngeliatin penyanyi cewek yang
pantatnya bohai itu.. Lihat kan?” lanjutnya antusias.
“Oh itu. Mau ngapain, Gar? Loe mau suruh bini gue ke sono, terus nabokin satu-satu?
Hehehe..” Si Benny nyerocos nggak jelas. Apa dia mulai mabok? Padahal cuma minum
ice lemon tea doang.
“Loe juga.. Diem dulu dong, broer.” Gary mulai agak kesal.
“Gue lihat mereka udah pada horny semua gara-gara ngeliatin pantat cewek
penyanyi itu. Tuh, lihat sampe mau megang segala. Ck ck ck..”

Memang kulihat mereka duduk sangat dekat dengan panggung, jadi mungkin saja.

“Let’s play a game. I call it, ‘Seduce or be seduced’ game.” Wah, mulai coro
Inggris, Si Gary. Gawat nih, pikirku.
“You go there, pick one or two or more guys, whatever, and then dance with him.
Try to seduce him while dancing. If we see and decide that you’re the one who
got seduced, then you loose and you must buy all of us here a round of drinks.”
Waduh bagus juga Inggrisnya bocah ini ternyata, lho.
“Nyang ber-alkohol, ye!” Yah, jadi betawi lagi dia. Sambil ngomong gitu, dia
melirik ke arah Benny yang masih asik dengan ice lemon tea nya sambil nyengir
jahat.
“Reseh loe, kunyuk!” Merasa disindir, Benny nyolot.
“Gue lagi mau menjauhi minuman keras nih. Supaya “itu” gue bisa lebih keras.
Huahahaha!”

Kami semua sampai kaget denger kerasnya tawa Benny. Orang satu ini memang
dulunya jagoan minum, tapi belakangan, entah mengapa kegemarannya itu hilang
tiba-tiba. Mungkin mau mengambil hati orang tua Poppy.

“Udah keras banget kok, Yang..” Poppy menggelendot manja di bahu Benny sambil
memberikan ekspresi horny.
“Berasaa banget..” katanya lagi. Ya ampun..
“Eh, Gar.. Loe mau jadiin bini gue perek, apa?” kataku sedikit ketus. Sebenarnya
aku deg-degan juga kalau-kalau Lena tertarik sama ide gila ini.
“Kalau bini gue digrepe-grepe orang, gue keberatan nih.” kataku lagi. Sebenarnya
aku sengaja supaya Lena makin tertantang. Kukedipkan mataku ke arah Gary, dan
langsung dia paham. Dihisapnya rokoknya dalam-dalam tanda mengerti akan maksudku.
“Tenang, Ra. This is just a game. Belum tentu juga ada yang mau sama bini loe.”
tandas Gary.

That’s done it. Mata Lena langsung melotot ke arah Gary dan berdiri.

“Eh, denger ya, Bang betawi.. Lelaki yang nggak suka sama gue pastilah hombreng
atau buta atau yang masih bayi. Ya nggak, Pop? Rol, Carol.. Jangan nyerutu doang
dong dikau.” Lena menyerang membabi-buta. Tercium bau alcohol dari mulut istriku..
Hmm pasti seru nih. Lena akan sangat nekat kalau sudah fly.
“Iya nih, Si Abang. Tega nian kau berkata demikian kepada kawanku yang bohay ini..”
Poppy mulai teler juga kayaknya.
“Carol.. Say something, sexy..” sambil ngomong gitu Poppy mengelus-elus paha
kiri Carol yang terpampang mulus diseberangnya. Darahku berdesir melihatnya.
“Wah, mulai ada ‘live show’ nih. Asiikk..” Eddy tiba-tiba nimbrung sambil
melihat ke arah Poppy dan Carol. Padahal sepertinya dia tadi lagi asik ngobrol
sama seorang cewek ABG yang duduk di meja sebelah kami.
“Iihh, Poppy.. Ntar gue basah nih loe elus-elus gitu..” kata Carol sambil
menjilat bibir sexynya dengan gaya horny yang dibuat-buat. Gila, pikirku. Bisa
ngaceng berat nih gue.
“Gue rasa semua cowok di sini bakalan horny sama Lena, tapi apakah Lenanya
berani?? Hmm?? Berani nggak, sayang?” Yah, Poppy malah nambah manas-manasin Lena.

Lena memandang sebentar ke arah Poppy yang langsung asik lagi dengan cerutu dan
ciuman-ciuman kecil suaminya di tengkuk dan lehernya. Tanpa berkata apapun,
berjalanlah dia menghampiri meja seberang yang penuh cowok-cowok horny. Ada 6
orang jumlahnya. This is one bad combination.. Satu cewek cantik nan seksi
setengah mabuk yang merasa ditantang, dan sejumlah cowok-cowok keren yang sudah
sangat horny. Very bad.

Setiba di meja seberang, Lena langsung pasang aksi. Aku dan teman-temanku
memperhatikannya dengan sedikit tegang. Mula-mula kulihat dia berbicara dengan
salah seorang dari mereka sambil bergaya agak genit namun tetap anggun. Tak
berapa lama kemudian, turunlah mereka ke lantai dansa sambil bergandengan tangan.
Lelaki itu berpostur sedikit lebih pendek dariku, tapi sangat atletis. I think
he’s a gym rat. Kekar sekali, mungkin ada keturunan Arabnya.

“Damn, beneran Si Lena. Are you OK, buddy?” Reno bertanya setengah berbisik
kepadaku.
“Fine. Gue mau lihat ini arahnya kemana. Tenang aja dulu, man.” Ujarku ke Reno.
“Wah, mulai ngegrepe tuh orang.” Tangan lelaki itu kuperhatikan mulai mengelus
lengan atas istriku yang terbuka. Terus dielus-elusnya, lalu mulai turun ke
pinggang dan berhenti di sana.

Saat dipegang pinggangnya, Lena berjoget dengan seksi sambil mengangkat kedua
lengannya sambil meliuk-liukan pinggulnya mengikuti irama musik pop-jazz. Liukan
pinggulnya yang seksi, ditambah dengan ekspresi wajahnya, sungguh dapat membuat
lelaki manapun terangsang. Lalu wajahnya sedikit didekatkan ke wajah Si lelaki
sambil tersenyum kecil. Jemari kirinya mengelus wajah lelaki itu yang tampak
macho dengan brewok tipisnya. Diperlakukan demikian, Si lelaki mulai berani,
lalu tangan kanannya bergerak pelan ke arah pantat istriku yang padat seksi itu.
Mulai dielusnya pelan pantat istriku, dan air mukanya sedikit berubah karena
didapatinya istriku memakai G-string.

Kulihat ia berbisik sesuatu kepada istriku, lalu istriku tertawa menengadah
sambil tangannya perlahan turun merangkul leher lelaki tersebut. Terlihat begitu
mesranya, sehingga bagi orang-orang yang tidak tahu pasti mengira mereka adalah
pasangan yang sedang jatuh cinta. Istriku lalu balas berbisik kepadanya, dan..
Hei! Lelaki itu mendekap pantat istriku dengan kuat sehingga dari pinggang ke
bawah tubuh mereka menempel erat.

Keduanya lalu bergoyang erotis sambil meliuk-liukan pinggul mereka. Lena,
istriku yang cantik, tampak semakin seksi dengan gerakan-gerakan itu. Kulihat
semua teman-temanku menelan ludah, baik yang pria maupun yang wanita. Termasuk
Carol, yang sudah hilang konsentrasi pada cerutunya itu.

“Gila, gue jadi horny ngeliat bini lu sama tuh cowok.” begitu celetuk Poppy.
Kuperhatikan wajahnya memerah dan dadanya naik turun. Mungkin benar, napsunya
naik. Kuakui, aku pun demikian.
“Iya nih. Hebat! Gue akuin deh bini lu, broer!” jakun Gary naik-turun. Aku
tersenyum saja sambil pura-pura tidak begitu peduli dan menyalakan rokokku.
Entah yang keberapa batang.

Gerakan yang memutar itu kemudian berganti. Lena dengan antusias tampak
menggosok-gosokkan selangkangannya ke selangkangan lelaki itu, naik-turun,
sambil merangkul erat lehernya. Sang lelaki tak mau kalah, mulai menciumi leher
mulus istriku perlahan dari atas sampai ke dekat belahan dadanya yang montok,
dan sebaliknya..

Begitu terus beberapa saat. Jelas terlihat dari wajah mereka bahwa birahi
keduanya sudah memuncak. Tangan kanan Lena terlihat turun ke pantat Si lelaki
dan meremas-remasnya kuat. Begitu pula tangan lelaki itu menyengkram erat kedua
bongkah padat pantat istriku yang masih bergerak naik turun, perlahan namun
pasti.

Makin lama kulihat gerakan Lena makin kuat dan sedikit dipercepat. Wajahnya pun
berubah jadi lebih liar dan agak memerah. Dadanya yang padat membusung makin
dibusungkan dengan tengadahnya kepalanya ke belakang. Remasan pada pantat lelaki
itu makin kuat dan sekarang ia menghisap jari tengah kirinya sendiri. Lena
bergerak makin cepat, makin mantap.. Kepalanya semakin jauh terlempar ke
belakang.. Hisapan pada jarinya semakin kuat.. Cengkraman pada pantatnya semakin
menjadi-jadi.. Dan.. Tiba-tiba pinggulnya berhenti bergerak naik-turun. Terlihat
pantat dan selangkangannya berkedutan diatas selangkangan lelaki itu, sambil
bibirnya dengan liar mengulum bibir lelaki tersebut yang terlihat agak shock
dengan itu semua. Lalu dengan perlahan cengkraman mereka mengendur, namun masih
berciuman panjang dan mesra.

Lena, istriku yang sangat kucintai, milikku seorang, mencapai orgasme dengan
lelaki lain di lantai dansa sebuah Nite Club dengan disaksikan oleh setidaknya
12 orang. Lima di meja seberang, dan tujuh di meja kami. Hatiku terasa sangat
kacau, antara kaget, bingung dan napsu bercampur menjadi satu.

Kuperhatikan Lena berbisik lagi kepada lelaki itu, Si lelaki mengangguk,
tersenyum, mencium pipinya. Istriku lalu kembali berjalan pelan ke arah kami.
Tanpa berkata apapun ia lalu duduk bersebrangan denganku tepat di samping Poppy,
lalu meletakan kepalanya di bahu gadis itu sambil menyender di sofa panjang
tempat duduknya. Tak berapa lama, ia tertidur.

Tak ada satupun dari teman-temanku yang berani memandangku, kecuali Carol yang
memandangku dengan dingin sekali namun menyelidik. Aku tidak tahu apa arti
pandangannya itu. Yang jelas, aku mencoba sekuat tenaga seakan tak tahu apa yang
terjadi barusan, walaupun cukup jelas terlihat ada noda basah di gaun Lena,
tepat didepan selangkangannya.

“Pop, tolong dong bangunin Lena. Kasihan dia kayaknya capek banget. Kita duluan
ya!” begitu rokokku selesai kuhisap, kuminta Poppy untuk membangunkan Lena,
memberinya minum segelas air putih dingin, dan aku menggandengnya pulang setelah
say goodbye pada kawan-kawanku. Tak sepatah katapun keluar dari mulut istriku.

*****

“Are you OK, babe?” tanyaku pada Lena, tanpa menoleh, dalam perjalanan pulang
kami di dalam mobil.

Mobil ini adalah sebuah BMW seri 5 terbaru yang merupakan hasil kerja kerasku
sendiri. This car is a testament to my success, and I’m so proud of it.

“No.” ujarnya lirih. Lho, ternyata ada air mata di kedua pipinya.
“Maafin aku, sayang.. Aku keterlaluan..” tangisnya mulai keras dan terisak-isak.
“That was very wrong, I was so drunk and I am so sorry it happened.” dengan
terbata-bata istriku berkata.
“It’s fine, babe. Aku sekarang hanya mau dengar dari kamu sendiri, dengan detail,
apa yang terjadi tadi di sana?” kupertegas suaraku.
“I want you to be honest with me, and I will forget it all”.

Lena menunduk sambil masih terisak pelan. Diam seribu bahasa. Sampai akhirnya
kami tiba di rumah. Kutekan klakson mobilku pendek-pendek dua kali, dan beberapa
detik kemudian pembantu rumah tangga kami terlihat tergopoh-gopoh keluar sambil
masih mengantuk. Kulirik jam di mobilku. Pk 2:52 dini hari, nggak heran kalau
dia ngantuk.

Setibanya di kamar tidur, kubuka pakaianku satu persatu, lalu masuk ke kamar
mandi yang terletak di dalam kamar. Lena menyusul tak lama kemudian, pada saat
aku sedang menyabuni tubuhku. Penisku terasa menegang melihat tubuh telanjang
istriku sambil masih terbayang permainannya tadi di Club.

Aku terbayang betapa erotisnya mereka bergoyang dan betapa air maniku juga
hampir menyembur tatkala Lena mencapai orgasme. Hentakan dan kedutan pinggulnya
yang liar saat dia mencapai puncak birahinya terus menari-nari di kepalaku
membuatku tak sadar mengelus sendiri penisku yang 22 cm sudah sangat tegang.

Lena terperangah melihat ulahku itu. Lalu dia mulai mengerti dan tersenyum penuh
arti. Dia mendekatiku dan melekatkan payudara montoknya ke punggungku.

“So, that was a turn-on for you, eh?” sambil berkata begitu tangannya mengusap
pundakku, terus turun ke lenganku dan bergerak ke arah selangkanganku.

Sampai di sana, tangannya mengambil alih kegiatan tanganku yang sedang mengelus
penisku turun naik. Merinding aku dibuatnya, pinggulku sedikit tersentak, dan
napasku jadi tertahan. Kepala penisku yang keunguan dan sudah mengeluarkan “pre-cum”nya
jadi semakin licin dan nikmat terasa dengan adanya sabun yang dibalurkan istriku.

“Kalau digituin terus, aku bakalan keluar, sayang.” kataku setengah berbisik.
“Kamu seksi sekali tadi. Did you cum on the dance floor?”
“Ehmm.. What do you think?” Lena terus mengocok pelan penisku. Kurasakan air
maniku akan segera menyembur. Aku yakin Lena juga merasakannya.
“Sayang, ****** kamu rasanya udah gede banget dan anget. Are you cumming, baby?”
Namun begitu Lena malah makin perlahan mengocoknya, dan genggamannya
diperlonggar.

Jarinya tiba-tiba menekan pangkal penisku untuk menahan gelombang air mani yang
akan segera meluap. Aku jadi blingsatan dibuatnya.

“Aduh, aku udah hampir sampai tuh, tadi.” Aku protes sambil mencoba mengocok
sendiri penisku. Tapi tanganku dipegangnya.
“Eit, kamu nggak boleh ngocok sendiri. Sabar dong, sayang. Let’s finish up and
go to bed.” Sambil mengecup bibirku ringan, Lena bergegas mandi dan setelah
selesai mengeringkan rambut dan tubuhnya. Ia lalu masuk ke dalam selimut dengan
tubuh polos. Aku mengikutinya dengan semangat di sebelah kanannya.

Dengan lembut Lena mengelus penisku yang sudah agak melemah di dalam selimut.
Penisku tiba-tiba bangkit kembali dan berdiri dengan tegar. Lena lalu mulai
mengocok penisku lagi sambil menghisap dan menjilati puting kiriku. Cairan dari
penisku sanaget nikmat dijadikan pelumas oleh istriku. Kurasakan juga kedua biji
pelirku dielus dan sedikit diremasnya. Benar-benar gelisah aku dibuatnya.

“Aku bilang sama Adam bahwa dia ganteng, dan aku pingin joget sama dia.” Tanpa
ba-bi-bu Lena mulai bercerita. Ternyata lelaki itu bernama Adam.
“Dia OK aja, lalu kugandeng dia turun.” Suaranya mendesah dan setengah berbisik.

Daun telingaku dan leherku diciumi dan dijilatinya lembut. Penisku kurasakan
makin tegang dan benar-benar mulai membasah.

“Waktu sedang asik-asiknya berjoget, aku ngerasa tangannya kok jadi berani dan
mengelus-elus pantatku. Tapi aku diamkan saja, karena kupikir, ‘Let’s play the
game’. Terus terang aku jadi horny digitukan.” Demikian cetus Lena sambil
jilatannya mulai turun ke dada dan perutku.

Agak geli rasanya saat perutku dijilatnya, tapi tak lama karena lalu kepala
penisku jadi sasarannya.

“Aahh..” setengah berteriak aku merasakan kehangatan mulut istriku yang
menjilati dan mulai mengulum kepala penisku.
“Masukkan sampai dalam, sayang.. Oohh.. Hisap, sayang.. Eemmhh.. Eemmhh.. Aahh..”
aku mulai meracau merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Mendadak Lena melepaskan penisku dari mulutnya, lalu meludahi kepalanya sedikit
sambil terus mengocoknya pelan dan berkata.

“Adam membisikiku katanya ‘kamu seksi sekali. Saya suka wanita yang memakai G-string.
Very sexy!’ Aku tertawa saja mendengarnya, tapi senang juga dipuji begitu.”

Tangannya membuat gerakan seperti memelintir naik-turun penisku dan
menggenggamnya agak keras, membuatku mendelik-delik keenakan.

“Aku bilang juga sama dia, ‘kamu juga macho banget sih, bikin aku horny aja’.
Suaraku kubuat seseksi mungkin supaya dia makin berani.”

Setelah berkata begitu, lagi-lagi penisku jadi sasaran hisapan mulutnya dan
jilatan lidahnya. Ohh, nikmatnya tidak terkira.

“Terus terang memekku basah sekali waktu itu. Apalagi waktu kita bergerak-gerak
memutar. Aku bisa ngerasin kontolnya Adam menekan clit-ku. Aku jadi sadar kalau
dia juga pasti merasakan juga clit-ku di kontolnya. It makes me so horny..”
Kulihat jari istriku bermain di kelentitnya dalam posisi menungging. Seksi
sekali. Bau kewanitaannya mulai menusuk hidungku dan menambah birahiku.

Aku tak tahan lagi, kurengkuh tubuh istriku, dan saat dia masih dalam posisi
menungging, kusodokan penisku perlahan ke dalam memeknya. Ahh.. Basah, hangat
dan terasa berdenyut lembut. Kukeluar-masukkan dengan mantap penisku sambil
kucengkram pinggulnya erat.

“Oohh, baby.. Fuck me.. Fuck me.. Oouughh.. Enak banget sayang..” Lena terengah-engah
dalam birahinya yang liar. Pinggulnya bergerak maju-mundur menambah dalam
terobosan penisku dengan sangat erotis.. Buah dadanya berguncang-guncang ke
depan dan ke belakang membuatku ingin menjamah dan meremasnya. Namun tanganku
malah bergerak ke kelentitnya dan mengosok-gosoknya lembut dengan jari tengahku.
Hal itu membuatnya makin berkelojotan.

“Shit.. Baby, aku pingin keluar.. Ooughh.. Cepetin ****** kamu, sayang.. Oohh..”
Lena benar-benar mendekati puncak birahinya. Saat kepalanya menoleh kearahku,
kusambut & kukulum bibirnya dan kuhentikan gerakanku. Tangan kiriku meremas buah
dada kirinya dengan gemas.

“Kok stop, sayang? Ayo dong, sayang..” Lena dengan gelisah berusaha memaju-mundurkan
pinggulnya, tapi kutahan dengan sekuat tenaga dengan mencengkram pinggulnya.
Tapi aku tetap membiarkan penisku di dalam vaginanya. Kuperhatikan ada cairan
putih kental di pangkal penisku yang adalah cairan birahi istriku yang sudah
membanjir.

“Continue your story atau aku akan berhenti di sini.” Sambil berkata begitu, aku
terus mengosok-gosok kelentitnya pelan untuk membuatnya makin bernapsu. Kuremas
lembut buah dadanya dan kumainkan pentilnya yang sudah sangat keras. Kurasakan
vaginanya berdenyut pelan beberapa kali.

“Waktu sudah beberapa saat ****** menekan memekku, aku tahu kalau aku nggak akan
berhenti sampai aku orgasme. Enak sekali soalnya.” Lena melanjutkan ceritanya.
Akupun mulai menggoyang pantatku lagi.

“Aku benar-benar nggak peduli lagi siapa yang ngelihat atau apa yang bakalan
terjadi nantinya.”

“Lalu aku putuskan untuk benar-benar mendapat orgasme. Ku cengkram pantatnya
supaya lebih mantap dan aku bergerak naik-turun karena dengan begitu aku yakin
bisa lebih cepat. Dan Adam mengerti yang aku mau kerena kurasakan dia juga
menyengkram pantatku dengan erat sehingga gesekannya sangat terasa..” sambil
bercerita Lena memaju-mundurkan pinggulnya menyambut kontolku.

Aku lalu mencabut kontolku dan telentang di ranjang. Lena mengerti maksudku dan
dengan cepat menaiki tubuhku dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang
sudah sangat basah. Cairan birahinya terlihat meleleh di paha bagian dalamnya.
Tubuhnya yang bergerakn naik-turun-memutar mutar sangat seksi luar biasa dan aku
merasa tidak lama lagi akan menyemburkan air maniku di dalam vaginanya. Penisku
terasa demikian nikmat di dalam pijatan dan gesekan vagina istriku. Kuremas
kedua buah dadanya yang bergelayut manja dan bergoyang kekiri dan kekanan.

“Benar aja, nggak lama kemudian aku ngerasa orgasmeku udah makin dekat dan
akupun semakin cepat ingin mencapainya.” Lena melanjutkan ceritanya.
“Oouugghh.. Baby.. I’m cumming.. Oohh, I’m gonna cum.. Yess.. Aagghh..!” Lena
berteriak keras saat puncak kenikmatan birahi menyergapnya.

Aku bergerak semakin cepat dan liar. Kuremas pantatnya, dan kusodok-sodokkan
penisku dengan cepat ke dalam vaginanya yang berkedutan sangat kuat, berkali-kali.

“Yaahh.. Aagghh.. Oh fuck.. Aku juga mau keluar, sayaang.. Aahh.. Aarrgghh..!!
Dengan beberapa kali sodokan kuat dan cepat aku mencapai orgasmeku yang tertunda
begitu lama. Tubuhku terasa enteng dan melayang.. Kukeluar-masukkan terus
penisku beberapa kali lagi sampai kurasakan tuntas semburan air maniku. Vagina
istriku berdenyut-denyut kuat beberapa kali menambah indah orgasme kami.

Lena ambruk di atas tubuhku. Hanya napas terengah kami berdua yang terdengar
bersahutan. Tubuh kami terasa licin oleh keringat yang membanjir. Kuelus-elus
lembut punggung dan pantat telanjang istriku, sambil kucium kepalanya. Buah
dadanya naik-turun seirama dengan napasnya terasa lembut di atas dadaku.